Thursday, 20 October 2011

Wish Upon a Star Episode 6

Posted by kiki kartika at 19:43
Karena ingin mengerjakan pekerjaan bersih2 rumahnya sepenuhnya, Pal-kang memimpin saudara2nya dalam sesi bersih2 di seluruh rumah. Tae-kyu menyarankan taktik berbeda pada Pal-kang sebab membersihkan rumah sepertinya tidak akan mengubah pikiran Kang-ha. Pal-kang harus mencoba sesuatu yang berbeda. Pal-kang berkata kalau dia tidak ingin mengubah pikiran Kang-ha. Hanya saja, melam itu Pal-kang mencari Kang-ha.
Kang-ha tetap tidak tersentuh ketika Pal-kang berlutut dihapadannya. Dia malah mengatakan kalau Pal-kang pasti mengembangkan kebiasaan memohon dengan berlutut. Kang-ha sudah mendengar kalau Pal-kang juga melakukan ini di kantor dan berkata kalau akan berhasil dengannya juga. Tapi Kang-ha tidak akan berubah pikiran jadi lebih baik Pal-kang pergi.
Pal-kang mengaku kalau setidaknya dia harus mencoba sebab dia sama sekali tidak punya kemampuan lain. Pal-kang memohon, “Hanya satu bulan saja!” Pal-kang akan pindah setelah menabung satu bulan. Kang-ha bertanya, “Kenapa aku harus melakukan ini?” Pal-kang menjawab, “Kau tidak melakukannya makanya aku memintamu untuk melakukannya sekali saja.” Tae-kyu masuk dan mengucapkan permintaannya. Pal-kang menyuruhnya untuk keluar tapi Tae-kyu malah berlutut dan berkata, “Paman, aku akan berhenti memakai narkoba. Aku tidak akan melakukannya lagi.” Kang-ha menjadi heran, “Kau memakai narkoba?” Tae-kyu membalas, “Itu adalah kebiasaan para musisi!” Ketika Tae-kyu diingatkan kalau dia sudah lolos tes, Tae-kyu malah mengatakan kalau ada cara agar bisa lolos tes seperti itu.
Tae-kyu memohon dengan mengatakan kalau Pal-kang dan anak2 akan membuatnya tetap bersih. Tae-kyu berkata, “Jika kau mengusir anak2, siapa tahu aku akan mengonsumsi narkoba kalau merasa menderita!” Ketika Pal-kang dan Tae-kyu keluar ruangan, mereka bersuka ria – ternyata berhasil. Pal-kang memeriksa apakah Tae-kyu sudah benar2 berhenti mengkonsumsi narkoba dan Tae-kyu menjawab, “Aku tidak memakai narkoba!” Dia mengaku kalau dia hanya mengarang hal itu.
Ketika Jun-ha tiba, mereka berdua secara genbira memberitahukan berita itu. Jun-ha tidak senang mendengar Pal-kang berlutut lagi, tapi dia senang mendengar berita itu. Pal-kang berterima kasih pada Jun-ha karena sudah mengkhawatrikan dirinya dan menambahkan, “Kalau kau tidak mengatakan hal itu padaku kemarin di halaman, aku pasti sudah bekerja di bar lagi hari ini. Terima kasih.”
Pal-kang membuat satu langkah maju untuk persetujuan itu dengan membuat kontrak yang ditulis tangan. Dia meminta Kang-ha untuk menandatanganinya. Kontrak itu bersisi janji kalau Kang-ha tidak akan mengusir keluarganya sebelum habis satu bulan. Tidak mampu memenuhi hal itu akan menimbulkan hukuma sah tertentu.
Kang-ha: Apa artinya ‘hukuman sah tertentu’?
Pal-kang: Begini, kelihatannya aku harus menulisnya seperti itu agar terlihat seperti kontrak yang sesungguhnya.
Kang-ha: Apa kau tidak tahu kalau kontrak yang membingungkan seperti itu tidak berlaku? Ketika kau berkata ‘untuk satu bulan’ sampai tanggal berapa itu? Siapa saudara yang kau sebutkan disini? Apa sebenarnya yang kau maksud dengan ‘hukuman yang sah’? Karena itulah kontrakmu tidak sah!
Pal-kang: Kontrak ini mungkin tidak saha, tapi aku akan mempercayai hati nuranimu. Tolong tanda tangan.
Tentu saja tinggal bersama mempunya kesulitannya sendiri seperti dalam hal menggunakan kamar mandi. Dengan hanya satu kamar mandi yang dipakai oleh lima anak dan tiga orang dewasa (Kang-ha punya kamar mandi sendiri yang dia pakai sendiri), kegiatan di pagi hari menjadi sangat kacau. Ini mirip dengan gambaran di rumah lama Pal-kang. Akan tetapi, karena semua orang ingin membuktikan pada kang-ha kalau hal ini akan berhasil maka Jun-ha dan Tae-kyu menerima ini dengan sikap baik dan tidak mengeluh. Kebaikan dua orang ini membuat selentingan diantara anak2 siapa yang pantas menjadi suami Pal-kang.
Kang-ha menemui Pal-kang di pagi hari dan langsung memberinya pidato.
Kang-ha: Tae-kyu dipaksa melakukan kegiatannya di pohon di halaman dan Jun-ha tidak bisa mandi karena anak2 memenuhi kamar mandi bawah. Apa kau pikir situasi ini masuk akan?
Pal-kang: Memang tidak. Ada lima anak2, dan karena mereka bukan makhluk yang tidak kelihatan, mengatakan kalau mereka harus bersikap seolah-olah mereka tidak ada memang tidak masuk akal dari awal.
Pal-kang mengeluarkan kontrak yang sudah ditandatangani oleh Kang-ha dan menggoyangkannya di wajah Kang-ha.
Pal-kang: Tidak ada klausa dalam kontrak yang mengharsukan anak2 bersikap seolah-olah mereka tidak kelihatan.
Kang-ha: Apa kau tahu frase kalau orang yang bersalah seharusnya tidak memprotes?
Pal-kang: Hal itu tidak berhasil pada sudut pandang biasa, benar kan? Jika bagi orang dewasa bersikap seolah-olah tidak terlihat merupakan hal yang tidak masuk akal, bagaimana mungkin mengharapkan anak melakukan itu? Aku rasa kau cukup tahu hal itu.
Tae-kyu: Pengacara hebat dalam hal hukum tapi kurang akal sehat. Bukankah kalimat Pal-kang masuk akal, Paman?
Kang-ha benar kaget dan hanya bisa mendelik. Ketika Kang-ha berjalan pergi, Jun-ha menggunakan kesempatan ini untuk sekali lagi menghancurkan kakaknya. Dia bertanya dengan lugunya, “Bukankah Jin Pal-kang punya kepribadian yang bagus? Dia menciptakan kesempatannya sendiri dan mempunyai akal sehat yang bagus.” Komentar Jun-ha adalah serangan untuk perkataan Kang-ha kalau setiap orang seharusnya menciptakan kesempatannya sendiri daripada diberikan begitu saja secara gratis.
Di kantor pagi itu, bos Pal-kang memberikan setumpuk hadiah pada Pal-kang – itu adalah sisa hadiah bos yang diberikan untuk kliennya. Bos ingin agar Pal-kang berkeliling ke rumah kliennya dan memberikan mereka hadiah ini serta melakukan kunjungan sekedar untuk beramah-tamah. Tugas ini tidak untuk mendapatkan kontrak baru. Ini hanya sikap baik hati bos sebab dia tahu Pal-kang tidak mampu memberikan hadian pada kliennya.
Pal-kang berterima kasih pada bosnya dan langsung keluar untuk menemui kliennya. Ketika salah satu kliennya bertanya tentang kebijakan yang baru, Pal-kang duduk dan menjelaskan detailnya tapi tidak paham pada istilahnya jadi dia tidak mendapatkan kontrak baru. Tae-kyu mengambil bagian dengan mengumpulkan teman2nya untuk berbincang tentang kenapa mereka harus memiliki asuransi.
Tapi Pal-kang sama sekali tidak siap jadi tidak mampu menjelaskan dengan meyakinkan kenapa para generasi muda harus menginvestsikan masa depan mereka. Tae-kyu heran – apanya yang salah. Pal-kang biasanya berbicara dengan sangat fasih. Akan tetapi, ketika dia berhadapan dengan para kostumer, Pal-kang menjadi gagap dan mengucapkan kata2nya dengan terbata-bata.
Di sisi lain, anak2 sedang belajar. Memang sekarang adalah musim liburan tapi mereka segera harus masuk sekolah lagi. Pa-rang mencoba untuk mengatakan pada saudara2nya kalau seharusnya dia tidak kembali ke sekolah. Jadi Cho-rok memukulnya. Ketika Pa-rang mengeluh, “Kenapa kau memukul-ku?” Kakak perempuannya itu menjawab, “Karena kau tolol!”
Pa-rang memberikan pembelaannya – karena mereka miskin, apakah dia harus bersekolah? Pa-rang menerangkan, “Mereka bilang menjadi kaya adalah tentang menyimpan uang ketimbang mencari uang. Pergi ke sekolah akan menghabiskan uang tapi jika aku tinggal di rumah kita tidak akan kehabisan uang!” Ju-hwang mendesah, “Gunakan otakmu!” Ketika Pa-rang memohonkan permintaannya pada Pal-kang, dia malah menyerahkan pekerjaan itu pada Cho-rok. Perintah dari Pal-kang ini diterjemahkan sebagai memukul sekali lagi Pa-rang. Tak pelak, Pa-rang mengeluh lagi, “Inilah kenapa otakku semakin buruk!”
Semua candaan hilang saat Pal-kang sendirian. Dia berharap (pada orang tuanya), “Jangan biarkan mereka seperti aku!” Karena ingin melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya, Pal-kang mengeluarkan buku tentang kebijakan dan melatih nada yang baik untuk berhadapan dengan pelanggan. Pal-kang tidak merasa ada yang salah sampai dia diganggu olah kedatangan Kang-ha. Dia datang bersama dua petugas polisi yang dipanggil oleh tetangga atas keluhan keributan. Kang-ha memberikan jaminan pada petugas itu kalau hal itu tidak akan terjadi lagi.
Ketika Kang-ha beralih ke Pal-kang, dia bicara seolah-olah Pal-kang sudah sering mengganggu hidup tenangnya. Pal-kang membela diri – baiklah, dia memang membuat kesalahan tapi betapa konyolnya tetangga mereka sehingga harus menelpon polisi. Jun-ha tiba di rumah dan memecah percakapan itu. Pal-kang menawarkan diri untuk membuatkan Jun-ha ramen karena dia bekerja lembur. Pal-kang masuk ke dalam dan meninggalkan Kang-ha yang mengeluh tentang keadaan ini. Jun-ha memandang dekat wajah kakaknya dan berkata, “Sangat aneh! Ini pertama kalinya aku melihatmu bicara banyak pada seorang wanita!”
Kang-ha membela diri, “Dia terus bicara padaku!” Jun-ha berkata lagi, “Dan ini untuk pertama kalinya aku melihatmu marah karena wanita!” Dengan sopan, Pal-kang juga menawarkan ramen pada Kang-ha tapi dia mengatakannya dengan nada muram jadi sepertinya Kang-ha tidak berselera menerima tawaran itu. Kemudian Tae-kyu datang dan menerima tawaran ramen itu. Jadilah Jun-ha dan Tae-kyu yang menikmatinya.
Kang-ha pergi ke kamarnya dan masih marah pada kata2 Jun-ha. Dia bersumpah kalau tidak akan menjawab pertanyaan Pal-kang lagi. Jadi ketika Kang-ha pergi ke dapur untuk mengambil air, dia hanya memberikan isyarat dengan tangan. Dia juga sempat melirik ramennya tapi tetap menolak tawaran untuk memakannya. Jun-ha dan Tae-kyu menebak kalau Kang-ha sebenarnya ingin ramen itu tapi harga dirinya tidak akan membiarkannya memakan ramen itu. Sendiri di kamarnya, Kang-ha meminum minumannya dengan tidak senang.
Pal-kang bangun pagi untuk memperiapkan sarapan dan Jun-ha bergabung dengannya. Sebenarnya bukan karena Jun-ha bangun pagi tapi karena dia begadang semalaman untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mereka duduk bersama untuk minum kopi. Pal-kang merenung kalau dulu ibunya pernah berkata kalau orang paling bodoh adalah orang yang menggunakan banyak energi tapi tidak bisa menyelesaikan apapun. Seperti itulah Pal-kang.
Jun-ha bersimpati sebab dia juga seperti itu. Kang-ha itu pintar jadi tidak perlu membawa pekerjaannya pulang ke rumah sedangkan dia harus memerlukan waktu beberapa malam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jun-ha juga membagi rahasianya, “Ketika aku bekerja di rumah, aku selalu mengunci pintu sebab aku tidak mau ketahuan oleh Hyung atau Tae-kyu!” Pal-kang tidak mengerti tapi dia hanya berkata, “Tapi itu memalukan!” Jun-ha meminta Pal-kang untuk menjaga rahasia itu dan dia juga akan menjaga rahasia Pal-kang.
Meski sudah waktunya anak2 bangun tapi Pal-kang meyakinkan Jun-ha kalau anak2 akan menunggu sampai semua orang pergi. Dengan cara begitu, mereka bisa menghindarkan keributan seperti kemarin. Akan tetapi, Jun-ha menarik kursi tambahan dan menyuruh anak2 ke meja dapur. Pal-kang protes dan mengatakan kalau anak2 bisa makan nanti saja.
Tapi Jun-ha mengatakan karena mereka sekarang tinggal bersama maka akan lebih mudah bila mereka juga makan bersama. Jadi ketika Kang-ha bergabung, mereka semua melayaninya agar tidak ada keluhan. Mereka melayani Kang-ha lebih dulu dan menganggapnya kakak tertua.
Di tempat kerja, Pal-kang kembali diminta untuk melakukan pekerjaan yang sama. Akan tetapi, Jae-young tidak senang dengan keputusan untuk membiarkan Pal-kang tetap bekerja. Pal-kang dipanggil kembali ke kantor oleh bos-nya yang sekarang marah.bos tidak mengerti apa yang dilakukan Pal-kang dengan tidak benar tapi bos mengatakan kalau dia meminta Pal-kang untuk tidak berjual-beli dengan klien. Pal-kang hanya diminta untuk membawa hadiah dan menyapa saja. Pal-kang sudah berjanji akan berubah tapi Pal-kang bahkan tidak mendengarkan perintah bos-nya.
Pal-kang mulai menangis dan menyadari kesalahannya. Dia menangis kalau dia ingin melakukan seperti yang bos lakukan. Waktunya hampir habis dan dia ingin mendapatkan uang sebelum menjadi tuna wisma, “Setiap kali aku membuka mulut, hanya kata2 bodoh yang keluar dan aku juga membenci diriku. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku hidup seperti ini?”
Setelah bekerja petang itu, Jun-ah pulang ke rumah dan tiba2 dia melihat Pal-kang sedang bengong di stasiun bis. Keingintahuan Jun-ha muncul ketika dia melihat pal-kang masuk ke dalam bus dan dia mengikuti kendaraan itu. Pal-kang hanyut dalam pikirannya dan menundukkan kepalanya.
Ketika kendaraan mulai berjalan, Pal-kang berdiri di tengah2 kendaraan dan mulai bicara dan meminta maaf karena sudah menganggu para penumpang disana. Dia membuat pengakuan dengan mata tertutup dan memperkenalkan diri sebagai Nona Jin yang tidak berguna yang tidak bisa melakukan apapun dengan benar dan yang telah menjerumuskan dirinya ke dalam hutang karena semua prioritasnya di masa lalu.
Pal-kang berkata, “Kalau saja orang tuaku tidak meninggal, aku pasti masih hidup seperti itu. Tapi… tapi… sekarang aku tidak bisa melakukan itu.” Pal-kang membuka matanya dan mengatakan kalau dia punya lima saudara dan dalam waktu sebulan dia akan tidak punya rumah.
Pal-kang: Tapi aku tidak tahu cara melakukan apapun. Aku gagap di depan pelanggan. Tapi aku bicara lancar dengan orang lain. Ketika aku melihat pelangganku, mulutku membeku dan aku ketakutan. Aku takut karena aku tidak tahu apakah aku mengatakan hal yang sebenarnya atau apakah aku memberikan informasi yang lengkap, jadi aku tidak bisa bicara. Jadi karena itulah, malam ini aku menganggu waktu kalian di saat kalian sedang lelah. Aku harus bisa bersikap masuk akal dan bertahan, tapi aku takut. Aku merasa kalau jika setidaknya aku bisa menunjukkan keberanianku dengan cara seperti ini, dengan cara berdiri dihadapan orang asing seperti kalian dan berkata dengan jujur orang seperti apa aku ini, mungkin aku akan mampu berbicara dengan jujur di depan pelangganku. Aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menganggu.
Pal-kang menundukkan kepalanya dan mulai menangis. Yang mengejutkan, semua penumpang bertepuk tangan.

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei