Friday, 21 October 2011

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 20

Posted by kiki kartika at 20:47
Sesuai dengan rencana Iljimae, anak buahnya menuju ke gunung yang tersembunyi, bersama dengan pekerja yang disediakan oleh bangsawan Tuan Choi Myung-gil. Tuan Choi juga memperkenalkan pada mereka seorang pria Belanda yang akan mengajari mereka rahasia dari senjata itu: ledakan.
Selama beberapa hari, tim itu belajar bagaimana mengembangkan dan menggunakan berbagai senjata menggunakan bubuk mesiu. Akan tetapi, Iljimae harus tetap berhati-hati dan bersembunyi, yang menjadi sumber kemarahan Wol-hee. Dia merasa tidak berguna dan terganggu sebab Iljimae begitu baik bersembunyi dan membebani dirinya dengan pekerjaan seperti memasak dan mencuci.
Ketika Wol-hee menangani segunung cucian di sungai, dia didekati oleh dua orang bayaran Kim Ja-jeom, yang telah mengintai adanya kegiatan yang mencurigakan. Mereka tidak tahu apa yang direncanakan Iljimae, tapi merasa aneh bahwa Wol-hee mencuci begitu banyak pakaian – apa yang dia sembunyikan? Apa yang sedang terjadi di balik gerbang itu? Mereka memaksa Wol-hee untuk mengatakan semuanya serta mengancam Wol-hee dengan kekerasan.
Sebuah batu yang dilempar ke tempat para pria itu yang membuat mereka berhenti dimana hal ini juga memberikan kesempatan pada Wol-hee untuk kabur. Kedua pria itu kabur saat mereka diburu oleh anak buah Choi. Kaki tangan Kim Ja-jeom itu akhirnya melapor kepada majikannya bahwa mereka sangat yakin Iljimae telah ikut campur, tapi mereka tidak bisa melihat sosok Iljimae disana. Akan tetapi, salah satu pria mengenali wajah Wol-hee yang begitu familiar dimatanya – dia adalah kekasih Iljimae.
Iljimae bertindak untuk memberikan peringatan, dengan meninggalkan sebuah surat di kamar Kim Ja-jeom, tertancap di bantal pria jahat itu dengan sebuah pisau. Keinginan Iljimae jelas: Ini artinya, jika aku mau, aku bisa saja membunuhmu! Jika bukan karena petuah yang dia pelajari dari biksu Yeol-gong, Iljimae pasti sudah membunuh Kim Ja-jeom malam itu juga.
Kim sangat marah setelah membaca surat itu, yang memperingatkannya agar tidak macam-macam dengan Wol-hee. Tapi Kim menenangkan dirinya, mengingatkan dirinya kalau dia tidak bisa melupakan betapa kuatnya seorang musuh bernama Iljimae. Kim Ja-jeom memutuskan bahwa dia harus bertemu secara langsung dengan Iljimae. Dia mengirim seorang pelayannya ke tempat persembunyian di gunung itu dengan sebuah pesan untuk Wol-hee.
Petugas Gu Ja-myung tahu kalau Tuan Choi sudah bertemu dengan Iljimae dan bertanya mengenai beberapa informasi. Berharap mendapatkan kepercayaan bangsawan itu, Gu mengaku kalau dia belum melaporkan apa yang dia ketahui ini pada atasannya. Dia tidak ingin menemukan Iljimae sebagai seorang polisi, tapi demi kepentingan ibunya. Tapi Gu Ja-myung memberikan sedikit penekanan, dengan mengatakan kalau Tuan Choi tidak mengatakan apa2 padanya, maka Gu akan mengatakan apa yang dia ketahui pada pihak kepolisian.
Usaha ini lemah, dan Tuan Choi menjawab jika memang benar Iljimae terlihat memasuki rumahnya, tapi dia tidak tahu apapun soal itu, dan belum pernah bertemu dengan Iljimae. Meski Choi berbohong soal tidak mengenal Iljimae, cerita lainnya merupakan kebenaran saat Choi mengatakan pada Gu Ja-myung bahwa dia sedang mengerjakan sesuatu atas perintah Raja – hal ini penting dan rahasia dan tidak bisa dihentikan. Pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan Iljimae dan pekerjaan ini demi kesejahteraan negeri ini. Tapi Choi memberikan Gu sebuah klu jika pekerjaan ini berhasil (yang artinya Gu harus berhenti ikut campur), Iljimae mungkin akan dimaafkan.
Baek-mae seperti biasa sangat ingin mendengar berita tentang anaknya dan bertanya pada para pria yang bertualang keluar Hanyang untuk informasi lebih lanjut. Dia kecewa sebab tidak ada info terbaru, tapi dia senang setelah menerima surat dari Gu Ja-myung. Berdasarkan reaksi Baek-mae pada surat itu, kita bisa tahu kalau Baek-mae telah memiliki semacam rasa suka pada Gu Ja-myung dan mengkhawatirkan kesehatan Gu Ja-myung seperti dia mengkhawatirkan Iljimae.
Pesan dari Gu itu mengatakan kalau Iljimae sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting, dan jika pekerjaan itu berhasil, maka dia mungkin dimaafkan. Baek-mae sangat lega dan tenang mendengar berita tersebut. Wol-hee menerima surat dari Kim Ja-jeom, yang artinya harus diberikan kepada Iljimae. Iljimae tahu hal ini dan dengan diam2 masuk ke kamar Wol-hee malam itu untuk mengambil surat itu saat Wol-hee tertidur. Tapi ketika Iljimae melangkah keluar, Wol-hee bangkit dan mengatakan kalau dia terbangun, serta menjadi semakin marah sebab Iljimae beranjak pergi tanpa mengatakan apa2 padanya. Iljimae mengatakan kalau dia tidak boleh dilihat oleh yang lainnya, tapi Wol-hee memeluk Iljimae, dan Iljimae tinggal disana untuk beberapa saat.
Dengan matahari pagi yang semakin mendekat, Iljimae harus segera pergi, tapi Wol-hee memeluk Iljimae dengan sangat erat dan memohon agar dia tinggal lebih lama. Pertengkaran kecil mereka terhenti oleh kedatangan Yeol-gong, yang marah karena Iljimae tidak seharusnya datang kesini dan membawakan Wol-hee beberapa bungkus obat untuk kelelahannya bekerja lembur. Pada pagi harinya, Iljimae menemani Yeol-gong keluar lalu membaca surat dari Kim Ja-jeom. Surat itu menyatakan: ‘Iljimae. Aku menerima hadiahmu. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ayo kita bertemu, hanya kita berdua saja.’
Kim Ja-jeom mempersiapkan pertemuan rahasianya dan tiba lebih dulu di tempat yang sudah disepakati. Saat Iljimae tiba, Kim membuka kalimatnya dengan kata-kata datang dengan mengatakan kalau dia mengerti Iljimae bekerja untuk kebaikan banyak orang. Lalu Kim mengejutkan Iljimae dengan menanyakan: “Kalau begitu, bagaimana bila kau bekerja sama denganku?” Sebagai ganti karena sudah mengehtikan sikap jahatnya, Kim Ja-jeom menawarkan Iljimae kekuatan dan kehormatan, memberikan janji pada Iljimae sebuah posisi dalam pemerintahan yang akan datang.
Tapi Iljimae menjadi curiga, dia mengeluarkan pedangnya, dan mendekatkannya ke leher Kim Ja-jeom, yang membuat pria itu berteriak, “Aku tidak berbohong sama sekali!” Iljimae sama sekali tidak senang mendengar penawaran ini; dia mengingatkan Kim tentang surat rahasia yang menyatakan sikap pengkhianatnya terhadap negerinya sendiri. Iljimae menuduh Kim Ja-jeom melakukan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan sama sekali yang membuatnya sama sekali tidak berharga menjalani hidup ini: “Apa aku harus membuat lubang di dadamu? Atau lehermu?”
Kim mengatakan kalau dia percaya pada kesetiaan Iljimae, tapi Iljimae mengatakan kalau dia sama sekali tidak punya kesetiaan pada pengkhianat seperti Kim Ja-jeom dan menghancurkan senjata yang disembunyikan Kim Ja-jeom – ternyata dia membawa pisau yang disembunyikan. Iljimae pergi dan meninggalkan Kim yang bernafas terengha sebab mengira dia sudah mati.
Satu hal posistif yang didapatkan Kim Ja-jeom dari pertemuannya dengan Iljimae, yaitu dia bisa menebak kalau Iljimae sama sekali tidak punya surat rahasia itu. Ini merupakan berita baik untuknya! Lebih jauh, dia menerima laporan tentang tempat persembunyian di gunung itu, dimana senjata api sedang dibuat. Tahu kalau bahan peledak diatur oleh negara, Kim menebak kalau Tuan Choi pasti bekerja atas nama perintah rahasia Raja.
Sedangkan, pengembangan senjata peledak berjalan dengan baik dan anak buah Tuan Choi yang bekerja di tempat persembunyian Iljimae senang dengan perkembangan pekerjaan mereka. Kim Ja-jeom bukan satu2nya yang menyelidiki diam2 tempat rahasia di gunung itu; Yang-po dan Wang Hweng-bo juga memutuskan untuk melakukan sebuah rencana buat menangkap Iljimae, yang akan mereka bawa ke Cina bersama mereka. Mereka membuat persiapan dan mengemas senjata rahasia mereka: sebuah drum.
Iljimae adalah orang pertama yang sadar kalau sekelompok pengerusuh sedang dalam perjalanan naik gunung. Dia langsung bergegas memberikan peringatan pada Wol-hee pada bahaya ini, dan memerintahkannya untuk mengatakan pada yang lain untuk cepat2 dan membawa pergi simpanan bubuk senjata dan senapan mereka. Wol-hee tidak langsung mengerti betapa genting berita itu sebab dia merasa marah karena Iljimae datang hanya untuk memberikan perintah dan pergi, tapi Iljimae menarik tangannya dan mengatakan kalau ini urusan penting. Jika mereka tertangkap sekarang, jika senjata mereka ditemukan, mereka semua akan hancur.
Iljimae meminta Wol-hee untuk pergi bersama Keol-chi dan berjanji, “Apapun yang terjadi, aku pasti akan datang padamu.” Setelah itu, Iljimae menghadapi anak buah Kim Ja-jeom, membela rakyatnya dan tempat persembunyiannya. Park Bi-su maju paling awal, mengenali Iljimae dari pertempuran mereka yang dulu, lalu melawan Iljimae sendirian. Dia memerintahkan anak buahnya untuk meneruskan perjalanan tanpa dirinya. Akan tetapi, Iljimae tahu kalau melindungi pekerjaan mereka adalah yang utama, jadi ketimbang bergulat dengan Park Bi-su, dia mengejar anak buah pria itu saja. Park mengejar ketika Iljimae menuju ke persembunyian dan terjadilah pertempuran besar antara anak buah Kim dan anak buah Choi.
Iljimae menuju ke tempat penyimpanan senjata mereka dan melihat salah satu benda itu telah dinyalakan. Iljimae bergegas untuk memadamkannya sebelum meledak – tapi tiba2 saja, drum berdendang, membuat Iljimae lemah dan berlutut. Dia memegang dadanya penuh rasa sakit, berjuang agar dia tetap mampu sadar… tapi reaksi Iljimae pada drum itu sangat membahayakan. Bunyi itu membuatnya lumpuh, lalu membuatnya pingsan. Tapi tiba2 saja, senjata itu meledak dan seluruh senjata di tempat itu meledak besar2an.
Iljimae melayang ke udara bersama ledakan itu lalu jatuh ke tanah. Dari kejauhan, Tuan Choi begitu terpukul melihat harapan besar mereka meledak bersama tempat persembunyian itu. Sedangkan, Wol-hee hanya memikirkan keselamatan Iljimae dan tidak sabar ingin kembali ke tempat persembunyian itu dan mencari Iljimae. Ketika dia tiba disana, Iljimae menghilang begitu saja. Keol-chi menyuruh Wol-hee untuk berlindung, tapi dia menolah meninggalkan tempat itu.
Kim Ja-jeom menerima berita dan tertawa gembira. Dia lebih suka Iljimae mati ketimbang hanya terluka, tapi dia tenang mendengar berita kalau Iljimae terluka parah. Dia juga menyukai ironi kalau petugas keamanan negara harus menutupi berita itu, sebab jika berita tentang bahan peledak menyebar, banyak orang akan ada dalam masalah, sebab hal tersebut akan membuat keterlibatan Raja dipertanyakan.
Tubuh Iljimae dibawa pergi oleh Wang Hweng-bo dan Yang-po, yang juga memberikan obat padanya, iljimae bergumam penuh rasa sakit, tapi dia terlalu lemah untuk menahan ketika mereka memaksakan obat lumpuh yang mereka bawa. Setelah itu, dua pria Cina berlindung di hutan, mendapatkan kenyamanan setelah makan dan minum, tahu bahwa mereka sangat dekat dengan tanah air mereka.
Iljimae bangun, tapi dia terluka, terikat, dan masih dalam pengaruh obat bius, jadi dia tidak mampu bergerak ketika Wang Hweng-bo dan Yang-po membicarakan rencana mereka. Iljimae berjuang untuk bertanya, “Kemana kalian membawaku?” Wang Hweng-bo hanya memberikan Iljimae obat bius lagi, lalu duduk bersantai.
Merasa aman, kedua pria itu tidur siang – tapi sang narrator mengatakan kalau kedua pria ini tidak awas. Seseorang menyelinap saat mereka tidur dan mengelilingi Iljimae yang pingsan, dan mengintip kedua pria yang tidur itu… orang itu Sung-kae! Dia berkata, “Kalian mencuri salah satu rakyat negeriku demi keuntungan negeri kalian? Aku juga tahu bagaimana caranya bersikap pahlawan!”
Dan Sung-kae menusuk dada Yang-po. Wang Hweng-bo bangun kaget dan Sung-kae menusuk matanya. Ketika mereka berdua mengeluh kesakitan, Sung-kae mengatakan pada mereka kalau dia mungkin saja seorang penjahat, tapi dia tidak akan diam melihat salah satu orang setanah airnya diculik. Meninggalkan mereka berdua yang sedang terluka, Sung-kae menarik kereta yang menjadi tempat tidur Iljimae lalu pergi dari tempat itu.

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei