Thursday, 20 October 2011

Wish Upon a Star Episode 7

Posted by kiki kartika at 19:49
Pal-kang pulang ke rumah setelah melakukan pidato di dalam bus dan menemukan Tae-kyu menuggunya di luar. Perkiraan pertama Pal-kang adalah Tae-kyu tidak bisa masuk atau mabuk. Dia tidak mengira kalau Tae-kyu disana untuk menunggunya. Tae-kyu bersikeras memanggil Pal-kang dengan namanya. Hal ini sangat tidaj pantas sebab Pal-kang lebih tua darinya dan Pal-kang sudah memberitahunya berkali-kali untuk memanggilnya noona.
Akan tetapi, malam ini Pal-kang sedang baik hati dan menawarkan pertemanan. Dia bahkan memperbolehkan Tae-kyu untuk terus memanggilnya dengan namanya. Tapi, Tae-kyu tidak mau tawaran itu. Dia ingin jadi lebih dari sekedar teman. Tae-kyu berkata, “Menikahlah denganku, Jin Pal-kang! Aku mencintaimu!”
Tae-kyu memeluk Pal-kang tapi Pal-kang malah menendangnya. Pal-kang berkata seolah-olah Tae-kyu adalah saudara yang sangat mengganggu dan memperingatkan Tae-kyu untuk menghentikan sikap aneh itu. Tae-kyu tetap menyebut Pal-kang sebagai belahan jiwanya dan menambahkan, “Jika kau menikah denganku, kau bisa tinggal di rumah ini bahkan lebih dari sebulan!” Pal-kang mengakui kalau itu ide yang tidak sepenuhnya buruk. Tapi dia sudah memasukkan lima anak ke dalam rumah ini. Jadi dia tidak akan menambah beban mereka. Jun-ha hanya menyaksikan percakapan ini dari dalam mobilnya.
Pada pagi harinya, Kang-ha bangun dan menemukan ada kaki di tempat tidurnya. Itu Pa-rang yang langsung berkata, “Aku punya kelainan tidur. Tolong mengertilah.” Dia menguap dan kembali tidur. Saudaranya yang lain sudah sadar kalau Pa-rang telah hilang. Jadi mereka mencari ke sekeliling rumah dan di luar rumah. Kang-ha memberitahukan dimana Pa-rang dan meminta agar dia dipindahkan. Ju-hwang yang bertugas membuat disiplin saudaranya dan bersiap2 untuk memarahi Pa-rang. Ju-hwang berkata kalau Pa-rang perlu merasa gelisah agar tidak berkelana ke kamar Kang-ha saat sedang tidur.
Ju-hwang mengejar saudaranya keliling ruangan dan mengatakan kalau Pa-rang lebih baik di masa lalu setelah dipukul. Pa-rang berjanji akan berbuat baik tapi tanpa pukulan. Dia bersembunyi di samping Jun-ha yang masuk dan memegangi Pa-rang. Jun-ha mengangkat Pa-rang dan menuju keluar. Sedangkan Ju-hwang tetap mengejar karena ingin memberi pelajaran disiplin pada adiknya. Tae-kyu merasa ditinggalkan dan menghentikan mereka. Dia menantang pamannya, “Kenapa kau melakukan ini pada anak2 kami? Mereka lebih ramah bersamaku! Kenapa kau mengganggu?” Tae-kyu berpikir kalau mereka sedang bermain dan mengambil alih peran Jun-ha.
Sekarang weekend dan Pal-kang mempersiapkan sarapan roti panggang. Jun-ha memadangi saudaranya dan mulai mengatakan kalau Kang-ha tidak makan makanan seperti itu. Tapi secara mengejutkan Kang-ah setuju pada sarapan itu. Pa-rang adalah anak paling tidak punya akal sehat dari saudaranya yang lain. Dia bicara langsung pada Kang-ha, “Paman, Kak No-rang barkata kalau paman yang lain tampan. Dan adikku terkecilku bilang kalau Tae-kyu yang tampan. Tapi aku berpikir kalai kau yang terbaik. Sejujurnya, kau seperti Power Ranger! Kau berkelahi dengan bagus, kan?!”
Saudara perempuan Pa-rang menjadikan momen ini untuk menjalankan kampanye mereka. No-rang mengganggu Jun-ha untuk menunjukkan bagaimana perasaannya pada Pal-kang. Sedangkan Cho-rok berbicara pada Tae-kyu. Ketika Tae-kyu menyebut Pal-kang sebagai belahan jiwanya dan mengatakan kalau dia telah melamar Pal-kang, Cho-rok sangat gembira dan langsung mengucapkan selamat pada Pal-kang atas pernikahannya yang sudah dekat. Jun-ha menghindari pertanyaan No-rang dengan cara keluar tapi anak ini membuntuti Jun-ha dan terus bercerita tentang kakaknya. Apakah Jun-ha tidak tahu kalau Pal-kang punya kaki yang indah? No-rang: “Lihatlah! Kaki kakakku sangat indah!”
Heran karena rumah begitu sepi, Kang-ha turun ke bawah. Ju-hwang mengatakan padanya kalau Pal-kang dan yang lainnya pergi berbelanja. Kemudian Ju-hwang bergegas ke kamar mandi – dia masih harus berurusan dengan sembelitnya. Kang-ha melihat bayi Nam hampir jatuh dari meja dan bergegas untuk menangkapnya. Lalu, Kang-ha harus berjuang menhadapi tangisan Nam – dia lapar!
Kang-ha meminta Ju-hwang untuk segera keluar tapi Ju-hwang tidak bisa segera keluar dan malah memberitahukan Kang-ha bagaimana cara mencampur formula untuk Nam. Kang-ha hampir saja salah mencampur formulanya tapi akhirnya sukses juga meski begitu, dia kesulitan menentukan suhunya. Ju-hwang memperingatkan agar suhunya tidak terlalu panas. Kang-he mengetes formula itu dengan mulutnya tapi malah menyemprot seluruh wajahnya. Karena putus asa, Kang-ha menyedot langsung dari botolnya – dia kemudian berhadapan dengan Pal-kang.
Pal-kang memarahi Kang-ha karena begitu kotor. Kang-ha membela diri dengan mengatakan kalau dia sedang mengetes suhu formula itu. Kemudian dia membiarkan Pal-kang yang menangani Nam. Dia sangat malu! Di luar rumah, kata2 Cho-rok membuat Kang-ha kesal: “Dia pasti tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Aku pikir pangacara seharusnya pintar!” Pa-rang membela Kang-ha: “Aku rasa kita sama!” Tae-kyu tertawa melihat pamannya seperti itu dan berkata kalau Kang-ha sudah kehilangan kharismanya karena Pal-kang.
Malam itu, Pal-kang mempelajari panduan asuransinya saat saudaranya sedang tidur sampai hidungnya berdarah. Saat akan membersihkan, dia menemui Jun-ha yang menawarkannya susu hangat. Mereka duduk bersama untuk mengobrol. Pal-kang terheran-heran betapa berbedanya Jun-ah dan kakaknya. Jun-ha menjawab, “Para wanita hanya menyukai kakakku!” Pal-kang menjawan dengan patuh, “Itu karena mata mereka cacat!” Tapi, Pal-kang dulu adalah salah satu dari wanita itu. Jun-ha bertanya dengan hati2, “Kau juga?”
Tentang hidung berdarah itu, Jun-ha mengatakan kalau Pal-kang pasti sudah berusaha sangat keras. Jawaban Pal-kang sangat menggembirakan, “Tapi kau tahu, aku merasa sangat senang!” Dia belum pernah mengalami hidung berdarah karena mengerjakan sesuatu dengan keras. Jun-ha mengerti, “Apa kau tahu bagaimana rasanya belajar semalaman lalu pergi ke sekolah dan berbohong bahwa kau merasa mengantuk dan tidak belajar?” Pal-kang menjawab kalau hal itu belum pernah terjadi padanya. Jun-ha berkata lagi, “Ya, itulah yang ingin aku bilang. Dan ketika aku pergi ke kamar mandi, hidungku berdarah. Dan aku merasa senang karena itu artinya aku telah belajar dengan keras!”
Pal-kang berjanji untuk menjaga rahasia Jun-ha ini. Perkataan ini membuat Jun-ha berkomentar kalau mereka terus saja mempercayakan rahasia masing2. Pal-kang tertawa dan mengatakan kalau mereka seharusnye membentuk kelompok rahasia atau hal semacamnya. Pal-kang kemudian mengucapkan selamat malam pada Jun-ha. Ketika mereka berpisah, Jun-ha berhenti sebentar untuk memandangi Pal-kang. Sepertinya inilah untuk pertama kalinya Jun-ha melihat Pal-kang sebagai seorang wanita.
Tugas selanutnya yang diberikan bos pada pal-kang adalah ‘untuk membiarkan mereka (pelanggan) tahu kalau kau bukan orang asing’. Pelajaran dasar ini adalah cara bos untuk melatih Pal-kang dan bukan dengan cara biasanya dimana tujuannya adalah untuk membuat Pal-kang menjadi lebih tulus. Pal-kang mulai mengerti meski dia masih bertanya-tanya bagaimana menyelesaikan tugas yang ini.
Salah satu teman sekantor Pal-kang, Jang-soo telah mendengar kalau ada kemungkinan Pal-kang menjadi model. Ini adalah pekerjaan yang memerlukan skil yang tidak dimiliki Pal-kang, jadi dia hanya mengucapkan terima kasih dan menolaknya. Dia ingin bekerja serius di perusahaan asuransi ini. Untuk itulah, dia mampir ke kantor salah satu kliennya dan mendengar kalau ayah kliennya ini meninggal. Klien Pal-kang ini pergi ke pemakaman. Klien ini tidak berharap bertemu dengan Pal-kang tapi Pal-kang tetap menunggu.
Karena Pal-kang akan pulang terlambat, maka anak2 yang mengambil alih tugas menyiapkan makan malam. Yang mengejutkan, mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik dan bahkan masakan mereka lebih enak dari Pal-kang. Sekali lagi, para gadis Jin memberikan perhatian pada Jun-ha dan Tae-kyu. Sebenarnya lucu sebab selain memuji-muji Pal-kang mereka juga menunjukkan kekaguman mereka sendiri pada kedua pria dewasa itu. Pujian itu membuat Jun-ha tidak nyaman dan Kang-ha bahkan harus berhadapan dengan pengagumnya sendiri – Pa-rang.
Tae-kyu pulang ke rumah dengan membawa bunga untuk Pal-kang tapi tidak bisa diberikan sebab Pal-kang masih belum pulang. Jun-ha berasumsi kalau bunga2 itu pasti untuk ulang tahun Kang-ha yang akan segera tiba. Kang-ha tersenyum tapi senyum itu dengan cepat hilang ketika dia mendengar kalau bunga2 itu untuk Pal-kang. Ketika Tae-kyu mengumumkan kalau dia akan menikahi Pal-kang, Kang-ha berteriak, “Kau bilang kau sudah berhenti mengonsumsi narkoba!”
Putra klien Pal-kang berterima kasih karena Pal-kang sudah membantu dan segera menyuruhnya pulang. Pal-kang menjamin pria itu kalau dia akan tinggal lebih lama sampai para tamu pergi. Pal-kang melihat kalau janda almarhum sudah duduk disini sepanjang malam. Wanita itu menangis kalau dia dan suaminya selalu bertengkar selama ini dan dia pikir kalau dia akan merasa bebas kalau suaminya meninggal. Tapi sekarang tidak ada yang dia ajak bertengkar dan dia merasa kosong. Ada sebuah lagu lama yang dulu sering dinyanyikan suaminya dan Pal-kang ingin menyanyikan lagu itu untuknya. Tapi Pal-kang tidak tahu lagu itu. Pal-kang berjanji akan memperlajarinya dan menyanyikan untuk wanita itu lain waktu.
Saat Pal-kang tiba di rumah, dia menemukan nasi dan bungkusan sup rumput laut serta pesan dari Jun-ha yang mengatakan kalau besok adalah ulang tahun Kang-ha. Karena Jun-ha tahu Pal-kang pasti lelah, maka Jun-ha berpikir untuk membelikan supnya duluan. Pada paginya, lagi2 Pa-rang tidur di tempat tidur Kang-ha. Bocah itu kembali meminta maaf lalu tidur dengan nyamannya lagi. Kang-ha bergumam, “Mereka semua minta maaf, lalu melakukan sesuka hati mereka lagi!” Tapi hari ini, Kang-ha malah menarikkan selimut untuk Pa-rang.
Ju-hwang menemukan adiknya dan bersiap-siap untuk memarahinya lagi. Kang-ha meninggalkan ruangan agar Ju-hwang bisa melakukan tugasnya. Kang-ha tersenyum setalah mendengar Ju-hwang berkata kalau tidak sopan bila tidur di kamar Kang-ha. Tapi senyum itu hilang saat mendengar Ju-hwang berkata kalau Pa-rang harus hati2 di sekitar Kang-ha sebab Kang-ha bukan orang yang baik. Tapi Pa-rang menjawab, “Tapi aku pikir dia punya kepribadian yang bagus!” Kang-ha kembali tersenyum tapi senyum itu hilang lagi waktu Ju-hwang bilang kalau Pa-rang tidak punya selera dalam memilih orang.
Cukup aneh melihat Kang-ha senang ketika diberi hadiah sarapan special ulang tahun. Selain sup rumput laut, Pal-kang telah mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat lauk tambahan berupa japchae. Kang-ha mau mencicipinya. Dan hasilnya, wajah Kang-ha menunjukkannya dan begitu pula wajah yang lainnya. Pal-kang telah gagal dalam langkah terpenting pembuatan japchae dan memasak dengan mie keras.
Di tempat kerja, Pal-kang meminta Eun-mal untuk melatihnya menyanyikan lagu yang disebutkan nenek. Mereka latihan bersama dan saat itu lewat Jae-young dan Jun-ha. Jae-young tentu saja memarahi Pal-kang dengan wajah judesnya. Jun-ha pasti ingin membela tapi kali ini dia punya alasan setelah melihat kamarahan Jae-young yang berlebihan. Membandingkan Pal-kang dengan seorang wanita gila sangat tidak adil. Jae-young menjelaskan, “Ada satu lagi orang yang seperti itu. Kapanpun aku melihatnya atau Jin Pal-kang, aku pasti marah.” Dengan lagunya, Pal-kang pergi ke tempat nenek tapi diberitahu kalau nenek pingsan dan sekarang ada di rumah sakit.
Sementara itu, Ju-hwang meyakinkan pemilik ruang computer untuk mau mempekerjakannya melakukan pekerjaan pembantu seperti melayani tamu dan bersih2. Dia memberitahu saudara2nya kalau dia pergi keluar dengan teman2nya. No-rang tahu kalau itu bohong – pertama Ju-hwang bilang kalau dia pergi ke perpus tapi sekarang bilang dia pergi dengan teman2nya. Pa-rang berkata, “Dia pasti telah pergi ke perpus lalu pergi ke rumah temannya.” Cho-rok mengatakan kalau Pa-rang tidak tahu apa itu perpustakaan dan menjelaskan kalau perpus adalah tempat membaca buku. Sekarang Pa-rang mengerti, “Buku? Dia berbohong. Kemana sebenernya hyung pergi?”
Jun-ha membawa Kang-ha dan Tae-kyu keluar untuk minum. Dia juga membawa tiga wanita untuk duduk2 di meja mereka. Mereka bukan gadis bar. Jun-ha sudah meminta salah satu gadis untuk menggoda Tae-kyu. Ini adalah untuk mengalihkan Tae-kyu dari ide gila menikahi Pal-kang. Kang-ha mendengus, “Tapi kau bilang malam ini adalah untukku.” Jun-ha menjawab, “Itu karena malam ini harus menjadi malam yang dapat dipercaya!” Kang-ha sama sekali tidak tertarik pada wanita yang menggelayutinya. Dia bangkit untuk pergi tepat ketika Jae-young tiba sambil membawa hadiah.
Kang-ha tidak langsung bersikap kejam pada Jae-young. Tapi terlihat jelas kalau Kang-ha tidak tertarik. Jae-young sama sekali tidak memedulikannya. Kang-ha menerima hadiah dari Jae-young tapi sikap Jae-young tidak membuatnya tergoda untuk masuk ke dalam. Kang-ha pulang lebih awal. Karena merasa sakit atas penolakan Kang-ha, Jae-young mabuk. Sedangkan Jun-ha berhasil dengan rencananya untuk menjauhkan Tae-kyu dari Pal-kang. Tae-kyu suka pada gadis itu. Dia bersumpah kalau gadis itu adalah belahan jiwanya dan melamarnya untuk diajak menikah.
Di rumah, Pa-rang tidur sambil berjalan lagi dan kali ini dia masuk ke kamar Tae-kyu yang kosong. Dia kemudian menuju ruang tamu dan bermain-main dengan benda yang bisa didapatnya – korek dan petasan. Pa-rang terbangun waktu petasan menyala dan membakar sofa. Pa-rang berusaha memadamkan api dengan tangannya.
Untungnya Kang-ha masuk dan menyingkirkan bocah itu. Dia memadamkan api dengan jas-nya. Pal-kang masuk beberapa saat kemudian dan langsung berlari ke sisi adiknya yang menangis meminta ibunya dengan ketakutan. Kang-ha berusaha memadamkan api tapi dia mengalihkan kemarahannya pada Pal-kang dan berteriak, “Pergi dengan segera. Sekarang! Keluar!”
Pal-kang telah melihat jari Pa-rang yang terluka. Kemarahan Kang-ha membuat Pal-kang juga marah. Dia menampar pipi Kang-ha. Kang-ha berteriak kalau rumah bisa saja terbakar. Pal-kang membalas berteriak, “Adikku bisa saja meninggal, kau bajingan yang tidak punya perasaan!”

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei