Friday, 21 October 2011

Wish Upon a Star Episode 10

Posted by kiki kartika at 01:39
un-ha langsung menunjuk Kang-ha kalau dia jahat pada Jae-young, lalu menjamin kalau ini murni karena dia merasa kasihan pada wanita itu. Jae-young adalah teman dan adiknya. Jun-ha berkata, “Aku tidak ingin dia menangis karena kakakku.” Keesokan paginya, Ju-hwang membantu menyiapkan sarapan, dan dia benar2 bangga pada dirinya. Dia bercanda kalau dengan kemampuannya, dia mungkin harus menikahi Kang-ha sendiri. Hal ini membuat Pal-kang bertanya dengan ragu2, “Apa kau… lebih suka pria ketimbang perempuan?” Ju-hwang protes, “Kakak!”

Anak-anak berjalan lemas dari kamar, menjelaskan pada Tae-kyu yang khawatir kalau mereka tidur dengan kaki mereka terikat untuk mencegah Pa-rang agar tidak tidur sambil berjalan ke kamar Kang-ha. Won bersaudara belum menyadari kalau anak2 merasa bersalah atas Pa-rang yang berkeliaran, dan ketika Pa-rang menyeringai dengan tidak nyaman, Kang-ha memerintahkan pada anak2 untuk tidak tidur dengan kaki terikat lagi. Semua orang memandangi Kang-ha; No-rang menjelaskan kalau mereka tidak melakukan itu, Pa-rang mungkin berjalan lagi ke kamarnya. Kang-ha menjawab kalau dia tidak ingin mereka meminta ganti rugi jika sesuatu terjadi pada kaki mereka.

Kang-ha bangkit dari meja, dan Ju-hwang bertanya bagaimana makanannya. Kang-ha berkata, “Makanannya lumayan.” Jawaban yang positif ini membuat Ju-hwang gembira. Pa-rang bertanya pada yang lainnya, “Kelihatannya dia mengkhawatirkanku, huh?” Meski No-rang berkata kalau Kang-ha hanya tidak ingin mereka meminta ganti rugi, Pa-rang bersikeras, “Kau benar2 bodoh! Paman pengacara benar2 menyukaiku!” Di tempat kerja, Kang-ha menelpon departemen yang lain untuk bertanya tentang pemotongan gaji Pal-kang, terlihat terganggu dengan jawaban yang diterimanya. Jae-young masuk, masih kesal dengan pertemuan tadi malam. Apakah Kang-ha dengan sengaja memperlakukannya buruk di hadapan ‘wanita jenis itu’ untuk membuatnya menyerah?

Kang-ha: Apa itu ‘wanita jenis itu’?
Jae-young: Apa kau benar2 tidak tahu? Karena penjilat itu, aku bahkan mabuk tadi malam! Aku tahu kau punya banyak cara untuk mengabaikanku, tapi jangan lakukan itu lagi. Aku juga memperingatkan Jun-ha, tapi kau bisa bingung tentang wanita seperti itu. Jika kau terjebak dengan wanita aneh seperti dia karena kau mencoba menyingkirkanku, kau bisa mendapati dirimu dalam masalah yang lebih buruk.
Kang-ha: Kau salah.
Jae-young: Apa?
Kang-ha: Aku sudah bilang padamu kau adalah satu2nya wanita di dunia ini yang aku lihat tidak sebagai wanita.
Jae-young: Jadi?
Kang-ha: Itu artinya aku benar2 melihat wanita lainnya di dunia sebagai wanita.

Jae-young bertanya apa artinya itu. Kang-he mengatakan padanya untuk tidak berpura-pura tidak tahu padahal dia tahu. Jae-young menarik Pal-kang dan menawarkan cek bank yang baru padanya – kali ini untuk 10 juta won. Pal-kang mengaku kalau dia sangat tergoda, dan pikiran macam itulah yang terbang melalui kepalanya. Akan tetapi, dia tidak bisa mengambilnya: “Jika aku mengambil uang itu sekarang, aku harus menjadi Nona Jin yang tidak berguna. Ini mungkin kemujuran yang besar, tapi itu juga akan menjadi yang terakhir dalam hidupku.”

Jae-young berkata dengan dingin untuk berhenti bersikap sombong dan hebat dan ambil saja uang itu. Pal-kang menjawab, “Ya, itu memang kelihatan benar, tapi aku ingin mencoba menjadi benar. Jika aku tidak ingin berakhir dengan jiwa seharga 10 juta won, aku pikir aku harus mengertak gigiku dan bersikap benar sekarang.” Jae-young tidak memberikan pujian pada Pal-kang karena bersikap terhormat, dan bertanya dengan curiga apa alasan Pal-kang yang sebenarnya. Setelahnya, Pal-kang harus pergi dengan tangan kosong dalam satu bulan.
Jae-young: Tentu saja kau tidak punya fantasy seperti Cinderella, bukan?
Pal-kang: Tidak. Aku punya mimpi yang lebih besar dari itu. Cinderella hanya istri pangeran, tapi ratu asuransi adalah ratu. Tidakkah kau bangga pada hal itu? Kau adalah petinggi JK, jadi mendengar pegawai rendahanmu punya mimpi sebesar itu pastinya membuatmu senang.

Apa yang memuaskan dari jawaban Pal-kang adalah dia tegas tapi tetap penuh rasa hormat. Pal-kang lalu permisi untuk kembali bekerja. Kang-ha mengadakan pertemuan dengan kreditor Pal-kang, meminta untuk didaftarkan sebagai penjamin Pal-kang. Kalau2 Pal-kang tidak sanggup membayar hutangnya, dia akan bertanggung jawab untuk hutang itu, jadi mereka bisa berhenti memotong gaji Pal-kang. Kang-ha meminta kreditor untuk menangani segalanya tapi tidak memberitahu Pal-kang tentang keterlibatannya.
Di kantor, rasa penasaran Jun-ha bertambah setelah mendengar dua pegawai membiacarakan kakaknya. Mereka telah mendengar kalau Kang-ha mempertanyakan soal pemotongan gaji Pal-kang. Karena Kang-ha adalah pemegang saham terbesar, bukankah ini artinya dia ingin memecat orang dan mengambil alih? Dengan reputasinya, tidak ada yang akan berpikir kalau Kang-ha membantu atau malah membuat celaka. Tidak seorang pun kecuali Jun-ha yang memikirkan ini berulang-ulang.

Kakek Jung mampir di rumah keluarga Won untuk membawakan anak2 daging. Anak2 memperingatkan kakek karena menghabiskan uang untuk makanan ketika kakek bahkan tidak punya tempat tinggal yang tetap. Pa-rang mengatakan makanan enak yang telah mereka makan baru2 ini, mengagetkan kakek dengan mengatakan kalau Kang-ha waktu ini mengajak mereka makan enak. Tae-kyu masuk dengan senang untuk mengumumkan kalau dia memesankan jajangmyun untuk semuanya. Anak2 mengalihkan Tae-kyu dengan memintanya memperbaiki toilet yang rusak, memberikan kakek kesempatan untuk menyelinap di bawah tangga.

Kembali ke kamar mereka, Ju-hwang memperingatkan kakek untuk tidak membawa apa2 lain kali karena mereka hampir tertangkap. Kakek menjawab kalau ini baru pertama kalinya dia marahi karena membelikan seseorang makanan. Tae-kyu dengan tiba2 masuk ke ruangan itu, dan mereka tidak cukup cepat untuk menyembunyikan kakek dari pandangan Tae-kyu. Tanpa pilihan, anak2 memberitahu Tae-kyu kalau pria ini adalah kakek kandung mereka. Yang membuat mereka kaget, Tae-kyu meminta anak2 untuk memastikan akan tidak tertangkap lalu membungkuk dengan hormat.

Tae-kyu juga menuangkan minum untuk kakek, ingin menunjukkan sisi baiknya karena dia berpikir kalau memenangkan hati kakek Pal-kang akan membantu kasusnya dengan Pal-kang. Tae-kyu menjelaskan kalau dia mencintai Pal-kang, dan sebagai putra tunggal dari orang tua yang memiliki supermarket besar di negara ini, dia akan mewarisi itu semua. Jadi tolong, apakah kakek akan mengijinkan pernikahan mereka? Tae-kyu menyalahartikan desahan kecil kakek sebagai persetujuan, dan menelpon Pal-kang untuk bersuka cita, “Kakek berkata iya untuk pernikahan itu!” Pal-kang menjawab, “Kalau begitu nikahi saja kakek.”

Pal-kang menerima telpon yang memusingkan dari salah satu kliennya, Choi Man-ho, yang sudah mengajukan klaim asuransi ketika dia diserang membabi buta. Akan tetapi, perusahaan itu menolak klaim Choi dan tidak membayarkan uangnya. Meski mereka mengatakan kalau mereka akan mencoba ulang kasus Choi, dia tidak punya uang untuk bertahan atau mencari pengacara. Karena itulah Man-ho berakhir dengan menjadi pengemis di jalanan.

Pal-kang merasakan simpati pada orang itu, khususnya ketika putrid kecil Choi datang dengan makanan. Pal-kang membicarakan kasus itu dengan supervisor-nya, tapi malah diminta untuk berhenti dan menyerahkannya pada pihak yang lebih pantas. Pal-kang tidak bisa hanya duduk dan menunggu ketika tim kuasa hukum merasakan masa manis mereka, jadi Pal-kang masuk ke kantor Kang-ha untuk memohon kasus Man-ho, meminta Kang-ha untuk memajukan kasus itu. Dia bisa menyaksikan kalau dia benar2 buta, dan Man-ho tidak bisa bertahan dengan apapun selagi kasusnya diujicoba.

Kang-he tegas akan membiarkan kasus ini di ranah hukum. Dengan marah, Pla-kang mengatakan kalau ini bukan uang Kang-ha tapi uang klien – jadi mereka harus melayani klien itu. Di samping itu, hukum tidak berada di pihak orang miskin, yang kaya dan berkuasa yang menang. Berperan sebagai pendamai, Jun-ha mengatakan pada Pal-kang untuk membiarkan saja hal itu, uangnya akan datang. Pal-kang bersikeras kalayu pria itu miskin dan tidsak bisa menunggu. Bertambah tidak sabar, Kang-ha menaikkan suaranya dan menyuruh Pal-kang pergi. Pal-kang malah menantang dengan berkata: “Kalau begitu ini bohong kalau pelanggan adalah teman, bukan? Sekarang aku mengerti kenapa aku kaku setiap kali aku berada di depan pelanggan. Itu karena aku tidak yakin apakah aku sedang menipu mereka atau tidak.”

Pal-kang mengeram. Jun-ha menawarkan minuman dan menjelaskan kalau Kang-ha sangat serius pada pekerjaannya, artinya klaim itu harus terdengar sebelum diproses. Pal-kang bersikeras kalau dia melihat kebutaan pria itu sendiri. Jun-ha berkata kalau itu bagus – kalau begitu segala ssuatunya akan berhasil untuk Man-ho. Jun-ha memerintahkan Pal-kang untuk tersenyum, menggoda Pal-kang ketika dia memberikan Jun-ha senyum setengah hati. Klien Pal-kang pasti merasa senang punya konselor sepertinya, begitu kata Jun-ha.

Yang menonton adegan itu adalah Eun-mal dan Jin-ju, yang langsung merasakan sesuatu. Jun-ha pasti tertarik, menurut mereka. Pal-kang protes, tidak percaya pada semua itu, tapi mereka menyuruh Pal-kang untuk mulai berhubungan dan meraih Jun-ha. Berlawanan dengan kata2 dinginnya, Kang-ha benar2 merasa frustasi pada tuduhan Pal-kang dan menjalani pekerjaan yang panjang. Jun-ha menjelaskan kalau Kang-ha berlari lebih banyak ketika dia punya kasus yang akan disidangkan – kenapa begitu?

Pertemuan Kang-ha berikutnya dengan Pal-kang adalah di rumah; Kang-ha berjalan ke kamarnya, dimana Pal-kang sedang mengganti seprainya. Pal-kang meminta maaf dan berjanji untuk segara pergi, tapi kang-ha mendesah kalau sebaiknya Pal-kang melanjutkan saja. Pal-kang menganggap itu sebagai pertanda positif dan memutuskan untuk mengaduk sedikit keberuntungannya. Kang-ha sudah pergi ke ruang kaca di kamarnya dan Pal-kang mengetuk pintu untuk minta waktu sebentar.

Membawa kasus itu lagi, Pal-kang menjelaskan kalau Man-ho tidak bisa menyewa pengacaranya sendiri. Apakah Kang-ha punya teman di Human Interest Law, mungkin orang yang bekerja untuk rakyat kecil? Kang-ha bertanya dengan tidak percaya, “Apa kau memintaku untuk mengenalkanku pada sainganku?” Menyipitkan alisnya, Kang-ha bertanya, “Aku bertanya karena aku sungguh2 penasaran. Bisakah kau menjelaskan alasan yang kau tanyakan ketika kau tahu hal itu konyol?”

Pal-kang: Aku adalah tipe orang yang mengatakan apapun yang muncul dalam pikiranku.
Kang-ha: Apakah itu hal yang harus disombongkan?
Pal-kang: Siapa yang bilang aku menyombong? Masih, ibuku mengatakan padaku bahwa jika kau bertemu dengan orang yang tepat, dia akan tergila-gila padaku. Daripada memendam banyak pikiran dan menjadi pengumpat, orang2 yang secara terbuka mengekspresikan apa yang sedang mereka pikirkan adalah jenis orang yang sering dianggap cute.

Kang-ha memaki-maki hal itu. Pal-kang mencoba membawa kembali percakapan itu pada masalah yang dibicarakan sebenarnya, tapi dia sudah kehilangan idenya dan bertanya bagaimana mereka sampai disini. Kang-ha menyarankan agar Pal-kang memikirkannya lagi di bawah. Pal-kang bergumam, “Aku memulai dengan sesuatu yang penting…” Oh baiklah. Pal-kang lalu turun ke bawah. Setelah Pal-kang keluar, Kang-ha berkata pada diri sendiri, “Cute? Dia itu tidak bertanggung jawab!” Lalu dia ingat, “Ah! Aku sudah bilang padamu untuk berhenti bicara pada dirimu sendiri.”
Jun-ha melihat Pal-kang turun ke lantai bawah dan mengingatkannya kalau Kang-ha tidak ingin Pal-kang ada di kamarnya ketika dia sedang di rumah. Pal-kang menjawab kalau Kang-ha pasti sudah menyerah soal itu, lalu mengenang kenapa dia pergi ke ruang kaca itu – perkenalan pengacara! Jun-ha kaget mendengar kalau Kang-ha mengijinkan Pal-kang ke ruang audio-nya lalu naik ke atas untuk bicara dengan kakaknya. Langsung, Jun-ha mengatakan kalau Kang-ha tidak akan mengijinkan pembantu yang lain masuk ke ruang audio-nya karena takut mereka akan merusak peralatan audio disana, tapi aneh karena Kang-ha membiarkan Pal-kang masuk. Kang-ha bilang, “Dia bersikeras untuk bersih-bersih? Apa yang bisa aku lakukan?”

Keesokan paginya, Kang-ha bangun dan merasakan/melihat gumpalan di kaki tempat tidurnya. Dengan sedikit harapan, dia bangun dan menarik selimutnya… tapi itu hanya bantal. Kang-ha sebenarnya terlihat kecewa dan berkata, “Aku sudah bilang pada mereka untuk tidak mengikat kaki mereka bersama saat mereka tidur.” Ketiga pria itu tiba di meja sarapan dan terlihat kaget mendapati dapur yang kosong. Pal-kang telah menyiapkan makanan untuk mereka dan meninggalkan catatan kalau dia punya urusan yang harus ditangani. Seluruh keluarga Jin menghilang.

Kemarin, Pal-kang mengalami kesulitan untuk menemukan dan mengajak pelanggan baru di pasar Dongdaemun yang ramai. Tadi malam, dia sudah memutuskan untuk menerapkan taktik yang lebih menarik, dan Ju-hwang menyarankan agar seluruh keluarga melakukannya bersama-sama. Taktik itu melibatkan semua anak dengan berpakaian sesuatu dengan arti nama mereka (arti nama anak2 Jin adalah nama2 warna). Pal-kang berkeliling memperkenalkan dirinya, begitu juga dengan saudara2nya. Kegiatan itu bukan untuk menjual asuransi, hanya mengedarkan kartu nama Pal-kang. Meski begitu, Pal-kang merasa sedikit bersalah, menyebut ini meminta-minta. Ju-hwang membenarkan – ini promosi!

Karena sudah mendapatkan idenya kembali, Pal-kang meminta Kang-ha lagi untuk memberikan referensi salah satu teman pengacaranya. Kang-ha menjawab, “Aku tidak punya teman.” Yang membuat Pal-kang berkata (dengan menggunakan kalimat Kang-ha sebelumnya), “Apakah itu hal yang harus disombongkan?” Pal-kang menghentikan dirinya lalu dia kembali pada topic sebelumnya lalu meminta senior yang dekat dengan Kang-ha saja, kalau begitu. Kang-ha juga tidak punya yang seperti itu. Pal-kang tidak bisa bertahan dan tahu kalau ini bukan tempatnya untuk berkata seperti ini, tapi bertanya bagaimana Kang-ha bisa hidup seperti ini. Ini artinya jika ada masalah yang menimpanya, maka tidak akan ada orang lain yang datang menolong.

Jae-young dan Jun-ha keluar dari gedung tepat untuk mendengarkan Pal-kang menjelaskan dirinya: dia sadar setelah kehilangan orang tuanya kalau dia belum mengembangkan hubungan personal, dan setelah menjadi Nona Jin Yang Tidak Berguna selama 5 tahun, teman kerjanya juga tidak ramah. Ketika Kang-ha menjawab, “Tidak ada alasan sesuatu akan terjadi padaku, tapi aku tidak peduli jika ada orang yang datang atau tidak.” Pal-kang menasehati Kang-ha untuk tidak berpikir begitu. Kang-ha mengatakan, “Apa kau tahu kita keluar dari topic lagi?” Sekarang kang-ha sudah bertengkar lagi dengan Pal-kang, Kang-ha mengeluhkan kelakuan Pal-kang saat sarapan – tidak pantas bagi Pal-kang untuk pergi dengan hanya meninggalkan sebuah catatan.

Pal-kang harus menjelaskan itu pada atasannya! Pal-kang bingung pada reaksi berlebihan Kang-ha, sebab dia sudah melakukan kewajibannya terlebih dahulu. Pal-kang bertanya-tanya, apakah ini alasan Kang-ha tidak punya teman, karena dia begitu ketat pada peraturan? Jae-young bertanya pada Jun-ha apakah dia pernah melihat Kang-ha bicara banyak pada orang lain sebelumnya. Jun-ha mencoba membuat Jae-young merasa lebih baik dengan alasan kalau Pal-kang punya kebiasaan memulai percakapan. Jae-young mengeluh kalau dia benci dirinya karena menjadi kesal pada hal2 yang sebenarnya tidak ada: “Dan yang paling aku benci adalah diriku karena selalu terikat pada Won Kang-ha meski dia sudah mengatakan padaku dengan berani kalau dia melihat seseorang seperti dia (Pal-kang) sebagai seorang wanita.”
Hal itu mengejutkan Jun-ha – Kang-ha berkata seperti itu tentang Pal-kang? Tentu dia mengatakan itu untuk mengacaukan Jae-young. Jae-young menjawab, “Aku tahu. Tapi itu tidak wajar.” Juga tidak wajar melihat Kang-ha mengobrol dengan Pal-kang dan ketidakwajaran itu membuat Jae-young kesal. Di kantornya, Kang-ha memberi dirinya obrolan keras: “Argh! Jangan terlibat, Won Kang-ha. Ini karena ka uterus bicara makanya semuanya jadi keluar.” Kang-ha berhenti, lalu bertanya-tanya (dengan gaya Pal-kang), “Tunggu, kenapa aku keluar lagi?” Kang-ha ingat – makan siang!

Kang-ha diganggu oleh kemunculan Jae-young, yang kembali membuat muka Kang-ha jadi berkerut. Jae-young menantang Kang-ha tentang komentarnya yang sebelumnya, bertanya lagi apakah hanya dia satu2nya wanita di dunia yang Kang-ha tidak lihat sebagai seorang wanita. Kang-ha tidak tertarik terlibat dalam pertengkaran, tapi Jae-young menghalangi kepergiannya dan tiba2 menciumnya. Tidak hanya Kang-ha tidak balas mencium Jae-young, dia juga terlihat bosan dan mendorong Jae-young.
Jae-young bertanya apakah Kang-ha masih berpikir kalau dirinya bukan seorang wanita, dan Kang-ha menjawab, “Tidakkah kau berpikir kalau kau terlalu merendahkan diri?” Jae-young menjawab tidak: “Aku bahkan bisa saja melepaskan pakaianku sekarang.” Ketika Jae-young bersikeras kalau dia mencintai Kang-ha, Kang-ha menyangkalnya. Jae-young hanya ingin Kang-ha mengisi visinya akan apa yang dia inginkan, tapi itu bukan cinta.
Jae-young: Cinta seharusnya kotor, perasaan yang kejam. Bukankah ini bukti? Bukankah ini bukti bahwa cinta yang membuat Jung Jae-young terikat padamu dengan cara kotor, cara kejam?
Kang-ha: Bukan. Ini bukti ambisimu. (Jae-young mendesah pada dirinya sendiri kalau dia berharap itu ambisinya. Kalau begitu dia mungkin bahagia dengan orang lain)

Pal-kang keluar untuk mengunjungi Man-ho, berhenti di toko makanan untuk membelikannya roti manis. Dia melihat ketika sebuah mobil mengerem di perempatan, tepat waktu untuk menghindari menabrak seorang gadis kecil. Mengenali anaknya, Man-ho membuang sikap butanya dan segera ke jalanan untuk menemui putrinya. Kaget karena pemandangan itu, Pal-kang mendekati ayah-anak itu. Man-ho meminta maaf dan meminta agar tidak dilaporkan ke polisi. Kasihan pada penderitaannya, Pal-kang memberikan roti yang dia belikan untuk Man-ho dan berkata, “Aku ingin menolongmu kapan saja, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku minta maaf.” Pal-kang menambahkan dengan berani, “Tetap saja, ini bukan semua yang ada dalam hidup. Jadi tolong, kuatlah!”

Ketika Pal-kang meninggalkan anak-ayah itu, dia melihat Jang-soo – dia disini untuk urusan kantor, untuk memeriksa klaim Man-ho. Pal-kang kaget ketika Jung-soo mengatakan kalau Kang-ha telah memintanya untuk mengumpulkan bukti kuat tentang keadaan pria itu jadi dia bisa melanjutkan kasusnya tanpa menunggu pengadilan. Keduanya merasa tidak percaya kalau Kang-ha meminta melakukan ini padahal dia tidak harus melakukannya. Malam itu, Pa-rang mengetuk pintu kamar Kang-ha. Setelah sehari makan makanan yang banyak, dia disini untuk mengumumkan: “Paman, aku tidak mendukungmu karena kau membelikan kami jajangmyun. Itu hanya karena aku menyukaimu. Jadi kau tidak bisa dikalahkan oleh Tae-kyu. Berjuang!” Ketika dia membungkuk untuk pergi, Pa-rang berkata, “Selamat malam! Mimpikan kakakku!”

Kang-ha berkata pada dirinya sendiri, “Argh! Anak2 itu benar2 membuatku gila.” Lalu dia ingat, “Ah, berhenti bicara pada dirimu sendiri!” Diikuti oleh kebingungan, “Kenapa kau seperti ini, Won Kang-ha?” Pal-kang datang dengan teh hangat, tang ditolak oleh Kang-ha, bertanya dengan sarkastis apakah teh itu beracun. Pal-kang tertawa, “Bahkan saat menonton program komedi, kau tidak tertawa, ya kan? Kau tidak mengerti kenapa mereka tertawa, benar kan?” Dalam 5 tahun, dia tidak pernah melihat Kang-ha tertawa. Kang-ha menjawab, “Aku tidak tertawa karena tidak ada hal yang perlu ditertawakan. Oke?”

Pal-kang mengucapkan terima kasih pada Kang-ha karena mengikuti Man-ho, menebak kalau sebenarnya Kang-ha memiliki perasaan yang sama dengannya. Kang-ha berkata tidak; hukum itu adil, dan dia hanya ingin memastikan sesuatu adil bagi semua pelanggan. Pal-kang mendesah, “Tidak bisakah kau setuju denganku.” Kang-ha mengiyakan. Jun-ha melihat adegan ini dari tangga di bawah, terganggu. Pal-kang menjelaskan kalau Man-ho akan menyerah pada klaimnya, sebab ternyata dia tidak benar2 buta. Dengan khawatir, Pal-kang memeriksa kalau ini tidak membuatnya dalam masalah karena menipu, karena dia yang membuka kasusnya, kan? Kang-ha mengiyakan, tapi tidak tanpa makian untuk Pal-kang dengan mengatakan kalau Pal-kang seharusnya tahu hal yang jawabannya sudah sangat jelas.

Pal-kang mendapatkan sikap Kang-ha itu kejam dan masuk ke kamar Kang-ha untuk menghadapinya karena kurangnya rasa hormat Kang-ha. Kang-ha menjelaskan kalau kelihatannya Pal-kang mengambil begitu banyak kemerdekaan karena janji Kang-ha untuk tidak mengusirnya. Pal-kang berpikir, “Kau benar. Kenapa aku melakukan ini? Aku mengatakan pada diriku kalau aku tidak harus melakukannya, tapi ketika aku melihatku kata2 itu keluar begitu saja. Di masa lalu, aku begitu ingin membuatmu terkesan jadi aku bicara dengan halus. Itu pasti karena aku tidak punya perasaan itu sekarang. Aku mempertimbangkan kata2mu. Percayalah padaku!”

Pal-kang membawa teh itu turun lalu pergi, membuat Kang-ha memikirkan komentar Pal-kang. Di bawah, Jun-ha mendengar Tae-kyu sedang menelpon, meminta uang pada ibunya. Jun-ha bertanya apa Tae-kyu sudah membuat masalah, tapi Tae-kyu mengaku kalau dia ingin membeli cincin berlian. Jun-ha marah tapi harus mencari tahu, “Apa perasaanmu sungguh2?” Tae-kyu punya kebiasaan bersikap buru2. Tae-kyu bersikeras kalau perasaannya sungguh2 dan bersumpah kalau Pal-kang adalah wanita satu2nya untuknya. Jadi Jun-ha menolongnya. Jun-ha mengajak Kang-ha ke bar. Pal-kang tidak lama kemudian, ditelpon kesana oleh Tae-kyu dengan janji kalau temannya ingin mendengarkan presentasi produk.

Sebuah spotlight bersinar ke arah Pal-kang saat dia masuk. Bingung, Pal-kang melihat berkeliling ketika seorang waiter menuntunnya ke sebuah meja yang penuh dengan bunga. Tae-kyu muncul di panggung menyanyikan lagu yang liriknya berbunyi, “Aku ingin hidup di sisimu.” Ketika Tae-kyu menyanyi untuk Pal-kang, Jae-young tiba – tidak diragukan lagi ditelpon oleh Jun-ha, yang melihat reaksi Kang-ha dengan dekat, seolah-olah ini adalah sebuah tes.

Kemudian, Tae-kyu berlutut dan mempersembahkan cincin pada Pal-kang. Melihat itu, mata Pal-kang melebar. Begitu juga Kang-ha. Hampir tanpa sadar, Kang-ha bangkit dari duduknya, membeku dalam kekagetan – Jun-ha tetap memperhatikan – tepat saat Tae-kyu berkata, “Menikahlah denganku.”

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei