Friday, 21 October 2011

Wish Upon a Star Episode 16

Posted by kiki kartika at 04:24
Pa-rang mengaku kalau dia kabur dengan sengaja dari RS jadi dia punya alasan untuk bicara dengan Kang-ha. Pa-rang mencoba menahan Kang-ha agara tidak menelpon Pal-kang. Tapi Kang-ha tetap menelpon Pal-kang sebab Kang-ha tahu dia pasti gelisah, tapi juga karena dia ingin menghindari percakapan dengan Pa-rang, karena dia mulai menjauhkan dirinya dari keluarga Jin. Pa-rang mengatakan kalau dia lapar, jadi Kang-ha mengatakan kalau dia akan membelikan Pa-rang makan lalu membawanya pulang.
Ketika mereka makan pizza, Kang-ha mengabaikan telpon dari Jae-young, lalu mencoba mempercepat segalanya dan kembali ke rumah. Pa-rang mengatakan kalau kakaknya tahu dimana mereka jadi tidak perlu buru2, plus dia ingin mengatakan sesuatu, lalu mulai dengan pengumuman, “Aku benar-benar menghormatimu!” Kemudian, “Bagaimana bisa kau menikahi wanita lain? Bagaimana dengan kakakku?”
Kang-ha tidak melihat hubungan antara Pal-kang dan menikah, tapi Pa-rang melanjutkan dengan logikanya. Pa-rang mengatakan, “Aku bahkan suka bau kakimu! Begitu besarnya aku menghormatimu!” Kang-ha jadi bingung, tapi dia juga harus mempertahankan kejujurannya: dia mandi setiap kali akan tidur, jadi kakinya tidak bau! Pa-rang mendekat dan memandang Kang-ha, “Mereka bau, paman!” Pa-rang tetap pada alasannya kalau dia suka Kang-ha meski kakinya bau, lalu menekankan.
Pa-rang: Kau seharusnya menikahi wanita yang kau cintai. Itu yang dikatakan ibuku. Kau hanya hidup sekali jadi kau tidak boleh menikahi sembarang wanita. Ibu berkata kalau hidup cukup singkat meski kau menikahi orang yang kau cinta. Jadi tolong menikahlah dengan kakakku.
Kang-ha: Apa kelihatannya aku mencintai kakakmu?
Pa-rang: Ya.
Kang-ha: Kenapa?
Pa-rang: Jika kau bertanya kenapa… itu hanya hal yang aku rasakan jadi aku tidak bisa menjawab.
Kang-ha harus menanyakan pertanyaan ini, yang sudah mengganggunya selama beberapa waktu, “Apa kalian pergi kursus atau semacamnya? Dimana kalian belajar membuat seseorang berbicara banyak?” Pa-rang hanya tertawa, merasa kalau Kang-ha menyenangkan. Pal-kang dan Jun-ha berjalan pulang. Pal-kang sudah pulih dari ketakutan akan kehilangan adiknya, sedangkan Jun-ha bertanya apakah Pa-rang sengaja menelpon Kang-ha. Masalahnya, Pa-rang tahu nomer Pal-kang tapi tidak menelponnya.
Setelah ditinggalkan di butik baju pengantin, Jae-young berhamburan masuk ke gerbang, dan memandangi Pal-kang. Dia disini karena rumah adalah satu2nya tempat dimana dia dapat menemukan Kang-ha, sebab dia tidak menjawab telpon. Jun-ha ingat kalau Jae-young seharusnya ada pertemuan dengan So-young dan bertanya apa Kang-ha tidak datang. Merasa bersalah, Pal-kang membungkuk dan berkata pada Jae-young, “Aku minta maaf. Ini semua karena adikku. Dia tersesat dan pasti sudah menelpon Kang-ha.” Jae-young langsung menampar Pal-kang. Jun-ha kaget dan meminta penjelasan kenapa Jae-young melakukan itu.
Jae-young berkata pada Pal-kang, “Kau pasti bersikap naïf tapi kau sebenarnya memanipulasi semuanya. Apa yang kau inginkan? Dengan memanfaatkan adikmu, apa yang ingin kau cari?” Mendengar kata ‘memanfaatkan’ Jun-ha membela Pal-kang, berkata kalau dia tidak ada hubungan dengan itu. Jae-young bertanya kenapa anak itu tidak menelpon kakaknya dan malah menelpon Kang-ha, “Apa kau pikir dia akan memikirkan ide itu sendiri?” Jae-young yakin kalau Pal-kang memerintahkan adiknya untuk ikut bersandiwara untuk merebut perhatian Kang-ha.
Jun-ha menjelaskan kalau anak itu memang sangat menyukai Kang-ha, lalu dia menyuruh Pal-kang masuk ke dalam rumah sebelum melanjutkan percakapan itu. Ketika Pal-kang telah meninggalkan mereka, Jun-ha bertanya, “Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?” Apa yang Pal-kang lakukan hingga ditampar? Jae-young menjelaskan kejadian di butik, “Apa sekarang kau mengerti kenapa aku menamparnya?”
Jun-ha: Tidak. Apapun alasanmu, aku tidak mengerti.
Jae-young: Aku bilang aku sedang mengenakan baju pengantinku lalu keluar dan dia sudah pergi! Apa kau tahu bagaimana rasanya itu bagi seorang wanita?
Jun-ha: Kalau begitu, kenapa melakukan pernikahan semacam itu? Kenapa kau ingin menikahi pria yang mementingkan telpon seorang bocah yang tinggal dengannya ketimbang kekasihnya yang sedang mengenakan baju pengantin?
Jae-young: Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau juga?
Jun-ha: Ini jalan yang kau pilih. Kakakku ikut ditarik karena ancamanmu untuk bunuh diri.
Jun-ha meminta Jae-young menangani masalah ini sendiri, “Daripada melampiaskan amarahmu pada orang lain yang tidak ada hubungan dengan ini.” Jae-young tidak percaya kalau Jun-ha memihak Pal-kang. Jun-ha memperingatkan Jae-young agar tidak memperlakukan Pal-kang dengan buruk, “Atau aku tidak akan melepaskanmu.” Jun-ha menuju ke kamar Pal-kang dan bertanya apa pipinya terluka. Jun-ha tidak mencoba membela Jae-young tapi kang-ha pasti sudah membuatnya marah lalu meminta Pal-kang untuk mengerti. Kata2 pal-kang lebih pahit dari nadanya, “Aku memang harus mengerti. Bagaimana pecundang sepertiku marah setelah ditampar karena terlibat permainan cinta segitiga orang kaya?” Pal-kang berkata kalau dia baik2 saja, sebab dia sepertinya akan lebih sering mengalami ini di masa depan, sebaiknya dia membiasakan diri.
Jun-ha sedih karena mendengar Pal-kang merendahkan diri seperti itu dan perlahan-lahan memeluknya. Jun-ha berjanji, “Akan aku pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi padamu.” Kalimat ini melangkahi batasan Jun-ha dan Pal-kang bertanya, “Tapi siapa kau bagiku hingga harus memastikan agar hal itu tidak terjadi padaku lagi?” Jun-ha menjelaskan reaksinya melihat Pal-kang ditampar, “Aku tidak pernah semarah ini sebelumnya.” Saat itulah, Jun-ha berpikir agar hal seperti ini tidak terjadi lagi pada Pal-kang.
Pa-rang sepertinya sengaja memperlambat makannya, yang membuat Kang-ha kehilangan kesabaran. Bisakah mereka bergegas dan pulang ke rumah? Pal-kang akan khawatir. Pa-rang menjelaskan, “Lihat? Kau mengkhawatirkan kakakku. Itu artinya kau mecintainya!” Kang-ha tidak dapat mengerti bagaimana itu bisa disebut cinta, jadi Pa-rang mengulangi ucapan ibunya bahwa mencintai adalah mengkhawatirkan. Kang-ha berkata putus asa, “Kenapa ibu kalian mengajari kalian banyak hal?” Pa-rang bertanya, “Paman, apa paman benar2 tidak mencintai kakakku?” Kang-ha mendesah, “Aku harus menikahi wanita lain?” Pa-rang protes, “Tapi kakakku mencintaimu!” Hal itu mendapatkan perhatian Kang-ha, “Bagaimana kau tahu?”
Pa-rang mengenang bagaimana Pal-kang memberitahu Nami kalau bintang tersbesar di langit adalah bintangnya Kang-ha. Ini bukan bukti dan Kang-ha menyangkalnya. Akan tetapi, Pa-rang yakin sebab dia ingat dulu ibunya mengatakan bintang yang terbesar adalah ayahnya, “Aku menangis kalau aku ingin menjadi bintang yang terbesar tapi ibu bilang tidak bisa. Ibu berkata, ‘itu bintangnya ayah. Jika kau merasa bersedih, maka nanti kau harus menemukan bintangmu sendiri dan menamainya dengan nama orang yang kau cintai!”
Yang itu sedikit lebih meyakinkan tapi Kang-ha tetap tidak bisa menyerapnya. Dia menyuruh Pa-rang cepat2 jadi mereka bisa pergi. Anak itu mendesah. Kata2 Pa-rang menempel di kepala Kang-ha waktu mereka berkendara pulang dan tersesat dalam kenangan sedangkan matanya mulai mengeluarkan air mata. Ketika Kang-ha pulang membawa Pa-rang yang tidur, Pal-kang beranjak untuk memaki saudaranya. Dia terlalu marah untuk mendengar alasan apapun saat itu dan ketika Kang-ha membela Pa-rang, Pal-kang menjawab kalau anak itu adalah adiknya dan bahwa dia harus menghukumnya saat dia pantas dihukum.
Pa-rang bersembunyi di belakang Kang-ha, dan saat itulah Jun-ha masuk dan menyingkirkan anak itu dari Kang-ha. Menjelaskan kalau Pal-kang sedang marah, Jun-ha mengajak Pa-rang untuk beristirahat di kamarnya selagi kakaknya menenangkan diri. Selama itu terjadi, Jae-young meradang. Dia mengikuti Kang-ha naik, marah-marah. Karena Jae-young selalu berpikir jika segalanya adalah tentang dirinya, dia bertanya apakah maksud Kang-ha ini adalah untuk melukai harga dirinya? Kalau begitu dia akan mundur. Kang-ha berkata kalau dia tidak melakukan itu – apa yang harus dia lakukan ketika dia mendapatkan telpon dari anak yang mengatakan kalau dirinya tersesat.
Jae-young mengatakan kalau dia tidak akan menolong – kenapa Kang-ha tidak memikirkan kalau dia bisa saja ditipu oleh gadis licik? Kang-ha meledak, “Apa kau tahu kenapa aku tidak ingin menikahimu? Karena bayangan hidup selamanya dengan orang sepertimu sangat mengerikan.” Jae-young akan menampar Kang-ha, tapi Kang-ha berhasil menahan tangan Jae-young. Kang-ha berkata, “Kau pikir kau pintar, tapi tidak. Kau seharusnya tidak menaikkan tangan pada pria yang merasa hidup denganmu pasti mengerikan. Yang seharusnya kau lakukan sekarang adalah mencari cara bagaimana agar aku merasa kau kurang mengerikan. Jika kau pergi sekarang, kita bisa menghindari momen yang mengerikan. Apa yang akan kau lakukan? Ingin tinggal?”
Jun-ha meminta Pa-rang berhenti menangia, kalau tidak dia akan lelah sendiri. Pa-rang menjawab, “Tidak apa. Tuan paman pengacara membelikanku pizza jadi aku tidak akan lelah.” Jun-ha bertanya kenapa Pa-rang begitu menyukai kakaknya apalagi Kang-ha kejam dan tidak bisa ramah pada orang lain. Pa-rang menjawab, “Dia bicara dengan baik padaku. Dan meskipun dia tidak bicara padaku, dia harus menikahi kakakku.” Jun-ha bertanya kenapa? Pa-rang mengatakan, “Sebab dia adalah satu2nya pria yang dicintai kakakku!” Jun-ha tidak percaya pada Pa-rang dan menyebutkan sebagai kesalahpahaman Pa-rang dalam mengartikan semuanya, meski pun Jun-ha mendengar tentang kata2 bintang terbesar. Mungkin itu sudah lama dan bintang berubah. Tapi ketika Pa-rang mengatakan kalau Pal-kang mengatakan tentang perihal bintang itu saat pindah ke rumah ini, Jun-ha baru mau memerhatikan.
Kang-ha pergi dari rumah untuk mengobrol dengan Jun-ha, jadi keluarga Jin makan malam sendiri sekali ini. Anak2 bertanya apakah Jae-young akan pindah ke rumah ini setelah Kang-ha menikahinya, yang merupakan sebuah perhatian besar sebab mereka tidak menyukai wanita itu. Jae-young dingin dan kejam. Pa-rang mengumumkan kalau dia sudah meminta Kang-ha tidak menikahi wanita itu, tapi anak2 yang lain tidak yakin apakah permintaan Pa-rang itu mempan. Pal-kang mengatakan pada mereka kalau tidak akan jadi masalah, karena mereka akan pindah sebelum pernikahan itu.
Tae-kyu masuk sambil membawa bunga, bersumpah kalau dia akan terus memberikan bunga sampai Pal-kang menerima perasaannya. Pal-kang begitu lelah berurusan dengan Tae-kyu hingga dia mendesah. Dia berkata pada Tae-kyu, “Aku tidak akan pernah melihatmu sebagai seorang pria! Jadi jangan bersikap seperti ini, aku mohon!” Akhirnya dengan kalimat yang diucapkan begitu jelas, Tae-kyu harus menerima ini sebagai keputusan akhir. Tae-kyu terisak dan bahkan Cho-rok menasehatinya untuk menyerah saja – dia merasa bersalah tapi dia tidak punya pilihan, sungguh.
Ju-hwang menyuruh Tae-kyu berpikir positif. Menikahi Pal-kang akan menimbulkan banyak masalah, dan dia harus berurusan dengan lima saudara. Tae-kyu menangis kalau dia tidak peduli soal itu – dia menyukai mereka semua. Berkat dukungan Cho-rok, Tae-kyu jadi bisa bercanda kenapa Cho-rok tidak sepuluh tahun lebih tua saja. Cho-rok mendesah ke kakaknya, “Kak, aku pikir aku harus menikahi Kak Tae-kyu!” Pal-kang begitu lelah berhubungan dengan keadaan seperti ini hingga dia tidak tahu harus mengatakan apa dan mengumumkan kalau mereka benar2 harus pindah.
Saat Pal-kang menyelinapkan kakek Jung malam itu, Tae-kyu menarik tangan kakek dan mengatakan kalau dia ingin merawat kakek seperti kakeknya sendiri, “Akan tetapi, aku menyerah sekarang. Cintaku tidak menginginkanku, jadi apa yang harus aku lakukan?!” Kakek bertanya apa Pal-kang menyukai orang lain dan senang mendengar jawaban tidak dari Tae-kyu. Kakek punya seorang pria untuknya, yang ingin kakek kenalkan pada Pal-kang. Tapi Pal-kang menolak tawaran itu – dia akan berkonsentrasi membesarkan adik2nya.
Di bar, Jun-ha dan Kang-ha minum. Jun-ha mengatakan pada kakaknya agar tidak melanjutkan pernikahan itu – Jae-young hanya mengancam akan membunuh dirinya, tapi dia tidak serius. Dia punya harga diri besar untuk tidak melakukan hal itu. Kang-ha sangat ingin pindah dari rumahnya, entah itu pindah ke rumah Jae-young atau yang lainnya, “Jadi perpanjanglah kontrak Jin Pal-kang. Dan biarkan dia terus tinggal disana.” Kang-ha mengira kalau tanpa dirinya di rumah maka suasana rumah akan lebih nyaman, plus Tae-kyu akan tamat tahun depan dan pindah ke AS. Jadi, pekerjaan Pal-kang akan ringan.
Jun-ha: Apa kau pindah karena dia?
Kang-ha: Tidak, semuanya untukmu. Jadi tolong jawab aku untuk satu hal. Apa kau serius? Ini bukan permainan, benar kan? Jawab aku.
Jun-ha: Tidak, aku bersungguh-sungguh.
Kang-ha mabuk. Dia bergumam kalau Jun-ha adalah pria yang baik dan dia senang karena Jun-ha tahan tinggal dengannya meski dia memperlakukan adiknya itu dengan kejam. Jun-ha berkata, “Itu bukan karena kau. Ibu kita yang membuat segalanya seperti itu. Kau tidak punya kamar mandi sendiri karena kau mau begitu. Ibulah yang mengatakan padaku kalau kamar mandi lantai dua adalah punyamu, jadi aku tidak menggunakannya.” Kang-ha menjawab, “Apa yang paling aku sesalkan adalah aku mengambil terlalu banyak darimu. Aku mengambil terlalu banyak.”
Jang-soo terus mengikuti pembunuh bayaran Kim Do-shik, tapi penjahat ini tahu kalau dirinya diikuti. Jang-soo tertidur saat mengikuti Do-shik dan dengan kesempatan ini, Do-shik kabur tanpa diketahui. Do-shik puas karena dia dapat kabur, tapi Min-kyung tidak terima karena ada orang yang mengikutinya. Itu artinya mereka tidak aman. Mereka mendiskusikan tugas Do-shik: Min-kyung menyewa Do-shik untuk membunuh seseorang dan tidak meninggalkan jejak. Dia memperingatkan Do-shik tidak minum – alkohol selalu menjadi masalah bagi Do-shik.
Sedangkan Jang-soo melapor ke yang lainnya. Dia yakin Do-shik punya penyokong keuangan. Percakapan itu diganggu oleh Jun-ha yang penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Eun-mal menjelaskan kalau ada persekongkolan di belakang kematian orang tua Pal-kang. Ini tentu saja semakin membuat Jun-ha penasaran. Dia mengajak Pal-kang bicara, dan Pal-kang mengatakan kalau dia hampir tidak mau tahu tentang kematian orang tuanya. Jika kebenaran itu terungkap, dia tidak akan mampu memaaafkan pria itu dan akan diikuti keinginan balas dendam. Dia berharap kecelakaan itu murni kecelakaan biasa.
Jun-ha menenangkan Pal-kang. Dia meminta Pal-kang untuk tetap yakin padanya di masa depan, sebab, “Aku yakin aku bisa jadi pendengar yang baik.” Di sisi lain ruangkaca itu, supervisor Pal-kang melihat mereka berdua bercakap, terlihat begitu akrab – sesaat berikutnya, Kang-ha juga melihat hal yang sama. Ketika Kang-ha berbalik, dia melihat Jae-young berdiri di belakangnya, juga menyaksikan percakapan itu.
Marah, Jae-young menemui Jun-ha di kantornya, “Kenapa kau melakukan ini?” Dia tahu Jun-ha baik pada semua orang tapi bukankah Jun-ha seharusnya tahu kapan menanggalkan sikap itu? Jun-ha mengatakan kalau mungkin dia tidak ingin, yang membuat Jae-young curiga, “Apa kau menyukainya?” Jae-young mengatakan kalau dia lebih suka Jun-ha menikahi mantan pacarnya sebab, “Aku bisa mengerti sebab dia sudah di level itu.” Jun-ha terlalu baik untuk Pal-kang. Jun-ha marah mendengar kalimat Jae-young itu, memperingatkan kalau Jae-young tidak pantas mengatur siapa yang dia ajak kencan. Jae-young memohon, “Aku sangat membencinya, begitu membencinya hingga membuatku gila! Jadi keluarkan dia!”
Jun-ha mengatakan kalau Jae-young sangat konyol. Jika Jae-young kesal karena tunangannya menyukai Pal-kang, Jun-ha pasti mengerti. Tapi jika Jae-young kesal karena Jun-ha, itu aneh. Jae-young berkata, “Kak Kang-ha adalah pria yang aku cintai, tapi kau teman yang dia mau aku lepaskan.” Jun-ha memutuskan, “Kalau begitu kita harus berhenti menjadi teman.” Dia tidak perlu teman yang bersikap seperti ini. Sementara, anak2 membawa makanan untuk Tae-kyu yang menolak makan. Tapi dia melihat sekilas makanan itu dengan penuh selera. Namun sejurus kemudian dia mengatakan akan terus bersikap demikian dan menolak makan. Anak2 mengatakan hal itu tidak ada gunanya, sebab semua sudah berakhir. Tapi Tae-kyu protes – dia tidak bisa menjadi pria yang mundur begitu saja!
Pal-kang menuju supermarket untuk belanja makanan, dan sebuah percakapan singkat memicu ingatannya. Dia ingat bibi Jung-ae, wanita yang sedang dicari kakek Jung, terakhir kali dia mampir untuk menjemput ibunya. Dia pernah membawakan wanita itu sekotak ikan dan mengatakan pada Pal-kang dimana alamatnya.
Berdasarkan ingatan ini, Pal-kang langsung menuju stasiun untuk naik bus ke Donghae, sebuah kota di pantai timur. Dia sangat terburu-buru hingga dia lupa kalau dia membawa Nam, tapi dia tetap melakukan yang terbaik untuk adik bungsunya itu. Keluarga Jung mengadakan peringatan untuk putra tertua yang hilang, dimana In-gu menangis dengan kencang. Min-kyung berpikir kalau In-gu hanya bersandiwara di depan ayahnya, tapi dia menangis sungguh-sungguh kalau dia mencintai kakaknya – dia mau mati demi kakaknya itu kalau dia bisa.
Ini mengaduk sedikit rasa kemanusiaan Min-kyung, yang langsung menelpon Do-shik. Jelas, kalau orang yang akan dibunuh selanjutnya oleh Do-shik adalah Jung-ae dan sekarang Min-kyung meninggalkan pesan di telpon Do-shik untuk tidak bertindak. Dia akan bertemu Do-shik, jadi Do-shik diminta menunggu sampai Min-kyung tiba disana. Pal-kang menginap di kamar sewaan dengan Nami, lalu menujur pasar Donghae pagi2 sekali untuk mencari bibi Jung-ae. Salah satu pedagang mengenali nama itu dan menuntun Pal-kang ke rumahnya.
Karena Jung-ea tinggal jauh dari kota, maka Pal-kang harus mendaki tempat yang cukup tinggi di udara dingin. Khawatir pada Nami, dia melepas mantelnya dan menutupi anak itu kemudian melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, dia lebih lambat dari Do-shik yang tiba disana lebih awal. Min-kyung mampu bicara dengan Do-shik sebelum pria itu beraksi yang membuatnya tenang. Sekarang Min-kyung menawarkan ide yang beda: dia meminta Do-shik datang ke rumah Jung-ae dengan sekantong uang penuh untuk meminta Jung-ea dan anaknya pergi tanpa jejak.
Do-shik melaporkan kesuksesannya kepada Min-kyung bahwa dia sudah bicara dengan kedua orang itu agar mereka pergi dan tidak kembali, dibawah ancaman pembunuhan. Dia akan membawa mereka ke Incheon dan mengirim Jung-ea dan anaknya ke Cina dengan paspor palsu. Di Seoul, Kang-ha juga sudah membuat kemajuan penyelidikannya dan menemukan seorang wanita yang tinggal di Donghae. Kang-ha melapor pada kakek Jung, yang ingin menemani Kang-ha. Mereka pun langsung berangkat ke Donghae. Ketika Kang-ha masuk ke kota itu, dia sekilas melihat Min-kyung yang sedang berkendara. Kakek tidak melihat, tapi Kang-ha iya.
Pal-kang tidak mampu menemukan rumah itu. Sedangkan Nami mulai menangis jadi Pal-kang segera ke klinik terdekat untuk mencari bantuan. Dokter memarahi Pal-kang karena Nami demam dan malah mengajaknya jalan2 di gunung yang bersalju. Karena terburu-buru, Pal-kang meminta dokter itu untuk menjaga Nam sebentar sementara dia mencari rumah Jung-ae. Sayangnya, Pal-kang telat, wanita tua mengatakan pada Pal-kang kalau Jung-ae dan anaknya sudah pergi dan kelihatannya pergi dengan terburu-buru. Sudah pasti mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat.
Dengan kecewa, Pal-kang berbalik – tepat saat Kang-ha dan kakek Jung tiba. Keduanya kaget saling bertemu disana, khususnya Pal-kang yang shock melihat kedua pria ini bersama. Kakek Jung memanggil nama Pal-kang, yang membuat Kang-ha terkejut. Kang-ha bertanya pada kakek, “Bagaimana anda kenal Pal-kang, Direktur?” Pal-kang kaget, “Di-direktur?”

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei