Friday, 21 October 2011

Wish Upon a Star Episode 12

Posted by kiki kartika at 02:01
Ketika Kang-ha mendekat untuk mencium Pal-kang, dia menunduk kaget dan berteriak, “Apa yang kau lakukan?!” Kang-ha berhenti dan menjauh dengan cepat. Dia bergaung dengan putus asa, marah pada dirinya sendiri pada kekeliruan ini. Dia berjalan ke dalam rumah menuju kamarnya, dimana dia merenung. Tidak bisa tidur, Pal-kang menuju ke dapur untuk melakukan pekerjaan, dimana dia bertemu dengan Jun-ha. Pal-kang menjelaskan kalau bekerja adalah cara terbaik untuk mengatasi pikiran tidak nyaman.
Jun-ha bertanya kenapa pikiran Pal-kang kacau, dan Pal-kang ragu, tidak nyaman berbagi. Jun-ha memohon – bukankah mereka teman berbagi rahasia? – jadi Pal-kang berbohong kalau ini berhubungan dengan pekerjaan. Jun-ha tahu ada yang lain, jadi dia meminta, “Jangan menyimpan rahasia dariku. Itu membuat orang semakin mendekat.” Pada paginya, Kang-ha bersikap normal. Berkata kalau dia mabuk semalam, dia bertanya pada Pal-kang apa mereka bertemu di gerbang depan. Melihat kalau Kang-ha tidak ingat kejadian hampir ciuman itu, Pal-kang menjawab tidak – mereka tidak bertemu. Anehnya, Kang-ha kesal dengan jawaban ini dan bahkan saking kesalnya, dia harus menepi saat berkendara.
Ibu Kang-ha menemukan Kang-ha di kantor lagi, mengatakan kalau dia begitu kejam karena mengabaikannya. Ibu berjanji kalau ini adalah kali terakhir dia meminta bantuan Kang-ha, yang mungkin saja juga dikatakan ibu terakhir kali mereka bertemu. Kang-ha mengabaikannya dan pergi, tapi ibu malah mengucapkan sebuah ancaman, “Pengacara Won, kita akan sering bertemu.” Di sisi lain, Jae-young meminta bantuan kakek agar bisa menikah dengan Kang-ha. Dia malu karena harus meminta bantuan kakek, tapi Jae-young hanya mencintai Kang-ha dan tidak mau kehilangan dia.
Kakek memegang kendali atas Kang-ha dan tentu bisa bicara demi kepentingan Jae-young. Kakek merasa kalau ini adalah masalah yang sebaiknya diselesaikan oleh mereka berdua, tapi kakek mencoba demi cucunya. Memanggil Kang-ha untuk sebuah bincang2, kakek bertanya bagaimana perasaan Kang-ha pada Jae-young, mengatakan kalau mereka akan menjadi pasangan yang baik, dan bertanya-tanya apakah Kang-ha bisa dipengaruhi untuk setuju. Kang-ha sopan tapi tegas: dia minta maaf, tapi dia tidak pernah melihat Jae-young sebagai seorang wanita.
Setelah dijamin oleh Kang-ha kalau pemotongan gaji akan membuat Pal-kang hidup dengan biaya kecil, dia dengan penasaran memeriksa akun bank-nya untuk melihat seberapa banyak dia sudah disisakan. Pal-kang setengah berharap kalau tidak akan tersisa apapun, jadi sangat mengejutkan melihat jumlah penuh: 1.649.574 won! Pal-kang protes kalau ini tidak benar – ini terlalu banyak. Ada yang tidak beres. Tapi Jang-soo mengalihkan perhatian mereka dengan sesuatu yang lebih penting. Dia sudah mencari tahu kecelakaan orang tua Pal-kang dan menemukan hal yang mencurigakan. Meski kecelakaan itu tidak direkam oleh CCTV, tapi ada gambar yang menunjukkan kalau mobil ortu Pal-kang diikuti oleh sebuah truk. Jang-soo tidak berpikir kalau ini mudah seperti tabrak lari – pasti ada yang lebih dari itu.
Ketika bertemu dengan kreditornya, Pal-kang mengetahui kalau pemotongan gajinya sudah dibatalkan. Karena kreditor ini sudah berjanji pada Kang-ha untuk tidak mengatakan apapun, pria ini tidak punya masalah untuk membuat dirinya seperti pahlawan, menjelaskan kalau dia menarik beberapa kesimpulan dari kantor Pal-kang. Setelah melihat Pal-kang menjaga bayi, dia merasa digerakkan oleh simpati – setelahnya, dia juga manusia, dengan emosi hangat manusia.
Untuk itu, pria itu mengatakan pada kantornya kalau ini tidak benar, dan bahwa Pal-kang dapat dipercaya untuk membayar hutangnya tepat waktu dan Pal-kang pun mendapatkan kesempatan. Tergerak, Pal-kang berdiri dan membungkuk dengan penuh rasa hormat, berterima kasih pada pria itu dengan air mata menetes: “Aku tidak akan melupakan ini seumur hidupku!” Saat berjalan pulang, Pal-kang dipenuhi oleh energi baru dan bersumpah pada dirinya sendiri: “Kau harus melakukan yang terbaik, Jin Pal-kang. Dengan semua orang menolongmu seperti ini, kau harus tetap berpikir jernih dan bekerja dengan baik.”
Tapi seorang peserta asuransi yang merah menelpon Pal-kang, marah karena respon perusahaan mengenai kematian istrinya. Perusahaan mengatakan kalau tanda tangan pada asuransi bukan tanda tangan pemegang asuransi, dan untuk itu mereka menolak membayar asuransi jiwa istrinya. Pal-kang meminta maaf dengan tulus dan berjanji akan mengusutnya, tapi pria itu tidak terima. Pria itu memperingatkan kalau dia sudah dimanfaatkan dan akan membawa ini ke pengadilan.
Dengan gemetar, Pal-kang masuk ke kantor Kang-ha. Dia langsung ke pokok permasalahannya: perusahaan membayar biaya rumah sakit pasien, tapi karena tanda tangan pasien tidak ada di kontrak, mereka tidak akan membayar asuransi jiwa. Bagaimana bisa mereka membayar yang satu sementara yang lain tidak? Kang-ha menjawab kalau yang pertama memang tidak memerlukan investigasi tanda tangan. Kang-ha bertanya siapa yang menandatangani kontrak kalau bukan peserta? Dengan gemetar, Pal-kang menjawab kalau dia yang tanda tangan. Tapi ada alasannya, klien itu melukai tangannya, jadi Pal-kang membantu klien itu memegang tangannya saat tanda tangan.
Jun-ha mulai bicara, tapi Kang-ha berteriak padanya karena ikut campur. Dia berkata kalau Pal-kang seharusnya tahu lebih baik dan bahwa tanda tangan itu tidak akan sah di mata hukum. Pal-kang bersumpah kalau dia mengatakan yang sebenarnya bahwa klien sudah tanda tangan – apa yang seharusnya dia lakukan ketika klien melukai tangannya? Kang-ha menjawab kalau Pal-kang seharusnya tidak melanjutkan kontrak itu atau menunggu sampai klien bisa tanda tangan. Kang-ha berkata dengan dingin, “Kau merasa kau melakukan ini untuk kepentingan klien, kan? Datang ke pengacara perusahaan dan menuntut yang mustahil – ini semua untuk klien, kan? Jangan salah mengerti – satu kesalahan kecil dalam bagianmu bisa membawa kehancuran bagi klien. Sekarang pergi.”
Jun-ha menenangkan Pal-kang, menawarkan untuk mencari alternative lain. Tapi dengan bodohnya, Pal-kang menjawab kalau Kang-ha benar: “Aku selalu melakukan ini. Kang-ha benar kalau aku tidak melihat dari perspektif klien. Aku hanya memikirkan prestasiku. Aku benar2 berpikir kalau masalah mungkin muncul sebab itu adalah asuransi besar, tapi aku mengabaikannya. Klien bertanya apakah akan lebih baik menunggu sampai tangannya sembuh untuk tanda tangan. Aku berkata tidak akan jadi masalah, dan bahwa aku akan mengurusnya.” Dengan menuduh diri sendiri, Pal-kang ingat bahwa dia memikirkan untuk pergi ke salon setelahnya untuk mendapatkan tatanan rambut yang bagus, seperti tatanan rambut wanita yang Kang-ha ajak. Jun-ha memandang Pal-kang dengan simpatik, berkata, “Kalau begitu masalahnya adalah kakakku.” Pal-kang berujar, “Tidak. Masalahnya selalu aku.”
Kakek Jung mengatakan pada Jae-young kalau dia sudah bicara dengan Kang-ha, tapi tidak mendapatkan berita yang diharapkan Jae-young. Kakek mengatakan pada Jae-young kalau ini tidak berarti apa2, dan bahwa Jae-young harus melepaskannya. Jae-young protes, “Tapi aku tidak bisa melepaskannya.” Dia bahkan tidak tahu bagaimana mengalihkan kasih sayangnya pada orang lain, karena telah mencintai Kang-ha begitu lama. Tae-kyu telah memberitahu Pal-kang kalau dia akan mengumpulkan teman2nya untuk mendengarkan presentasi asuransi Pal-kang, dan Tae-kyu menelpon Pal-kang untuk datang ke bar malam itu.
Kang-ha duduk sendiri dalam diam ketika tiba2 segelas air disiram ke wajahnya. Itu Jae-young, marah karena kakeknya sudah ditempatkan di posisi yang salah untuk menjadi pesuruhnya. Untuk beberapa alasan, dalam pemikiran Jae-young, dibenarkan menyalahkan Kang-ha ketimbang dirinya. Bahkan, Kang-ha memberikan tawa yang nyaring – kenapa Jae-young membuat hal yang seperti itu terjadi, kalau begitu?
Jae-young bersikeras, “Karena aku tidak bisa bersamamu! Apa kau harus berbuat sejauh itu dan sekejam itu? Kau berkata kalau kau tidak akan menginginkanku meski hanya tinggal kita berdua di bumi? Kau tidak bisa berkata kau akan memikirkan itu?” Kang-ha menjawab, “Aku tidak bisa mengatakan itu kepadanya. Aku tidak bisa berbohong pada orang tua yang peduli padaku.” Kang-ha meninggalkan bar itu, tapi Jae-young tidak tahu kapan untuk berhenti dan mengikutinya, mengabaikan usaha Jun-ha untuk menahannya. Jae-young begitu gigih hingga membuat Kang-ha berteriak, “Hentikan itu!”
Kang-ha: Tidak peduli seberapa besar kau bertindak seperti ini, aku tidak akan berubah.
Jae-young: Apa yang harus aku lakukan?
Kang-ha: Tidak ada yang bisa kau lakukan. Tidak peduli apa yang kau lakukan, aku tidak bisa membuat diriku mencintaimu! Kau tahu kenapa? Sebab aku tidak punya hati. Jadi tolong jangan membuang-buang waktu. Aku mengatakan ini untuk kepentinganmu, karena aku menganggapmu sebagai adik.
Jae-young: Apa aku harus mati? Apa aku harus minum obat dan mati? Lalu kau akan berubah?
Kang-ha: Jangan mengacaukan hidup yang berharga. Tidak untuk pria sepertiku.
Kang-ha pergi dan Jae-young berteriak padanya – baiklah, dia tidak akan meminta apapun lagi, jadi tidak bisakah Kang-ha tinggal dengannya? Jae-young berlutut: “Tidak apa bila aku hanya adikmu, jika aku bukan seorang wanita untukmu.” Dia tidak ingin hidup tanpa Kang-ha. Jae-young lalu mencari kenyamanan pada Jun-ha, yang memeganginya ketika dia menangis. Jae-young meminta Jun-ha untuk melakukan sesuatu pada Kang-ha, sebab dia merasa seperti sekarat. Jun-ha menjawab, “Aku sedang mencoba. Aku mencoba melakukan apapun yang aku bisa untukmu.”
Pal-kang berbelok di pojok tepat waktu untuk melihat percakapan Jae-young dengan Jun-ha dan sekarang melihat Jun-ha memegangi Jae-young. Pal-kang sekarang melihat Jun-ha dengan Jae-young. Di rumah, Tae-kyu memarahi Pal-kang karena tidak datang untuk bertemu dengan teman2nya. Pal-kang merasa bersalah dan bingung, dan mencoba untuk menjawab Tae-kyu dengan tenang. Akan tetapi, Tae-kyu terus mengeluh dan Pal-kang kehilangan kesabaran, meninggikan suaranya: “Woo Tae-kyu! Hentikan itu.” Pertama-tama, berhenti memangilnya ‘jagi’ karena dia bukan pacar Tae-kyu dan dia sudah mengatakan itu pada Tae-kyu berkali-kali. “Aku bukan mainanmu.” Tae-kyu kaget dan berkata kalau dia tidak pernah melihat Pal-kang sebagai mainan.
Pal-kang mengatakan pada Tae-kyu kalau perlakuan Tae-kyu padanya menghinanya, tepat pada saat itulah Kang-ha berjalan menuju jalan setapak yang mengarah ke pintu depan. Ketika dia mendekat, dia bisa mendengar suara yang meninggi di dalam ketika Pal-kang berkata, “Aku bukan orang yang bisa kau perlakukan dengan sembarangan! Aku juga manusia!” Merasa bingung, Tae-kyu bertanya, “Kapan aku tidak melihatmu sebagai seorang manusia?” Pal-kang mengingatkan, “Jangan manfaatkan aku dalam lonjakan emosionalmu.” Tae-kyu keceplosan dan memanggilnya ‘jagi’ lagi jadi Pal-kang membalas, “Aku bilang jangan panggil aku ‘jagi’ lagi! Di akhir bulan, aku akan meninggalkan rumah ini jika ini membunuhku. Jadi jangan bergantung padaku dan tinggalkan aku sendiri! Tidak peduli apapun, aku akan mengajak saudara2ku dan pergi!”
Kang-ha tidak menyadari Jun-ha sedang berdiri disana sampai dia berbalik dan berhadapan dengannya. Dia berkata pada Jun-ha, “Aku memperingatkanmu. Tinggalkan saja wanita itu sendirian.” Jun-ha menantang, “Dan jika aku tidak mau?” Kang-ha menjawab, “Kau sudah mendengarnya. Meski dia terlihat dungu, dia tahu segala hal yang pantas diketahui. Dan dia akan pindah dalam sebulan. Jadi sampai hari itu, jangan lakukan apapun padanya.” Jun-ha menjawab, “Dia mungkin meninggalkan rumah ini, tapi aku tidak akan membiarkannya pergi sendiri dengan saudara2nya.” Ini membuat Kang-ha marah jadi dia menarik kerah baju Jun-ha, “Apa kau pikir aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini?” Jun-ha mengaku kalau pada awalnya dia melakukan ini karena ada hubungannya dengan Kang-ha. Tapi sekarang ini sudah berbalik dan menjadi urusannya sendiri.
Meski Tae-kyu tidak pernah bermaksud jahat, kata2 Pal-kang ada benarnya juga dan dia bertanya pada Jun-ha apakah cara dia memperlakukan Pal-kang mungkin membuatnya merasa tidak enak. Bisakah terlihat dia seperti bermain-main? Jun-ha berujar, “Apa kau tahu cara paling indah memperlakukan orang yang tidak mencintaimu? Tidak mencintai mereka juga.” Berikutnya. Dengan nada yang ramah, Jun-ha mengajak Pal-kang untuk minum kopi dengannya. Akan tetapi, Pal-kang merasa lelah pada kejadian hari ini dan menjawab dengan nada dingin, “Ada banyak hal yang aku syukuri untuk ditangisi. Aku mungkin bersyukur pada air mata, tapi aku tidak bisa menjadi sumber kebahagianmu.”!
Jun-ha berubah menjadi lebih serius ketika dia berkata, “Aku memiliki banyak pacar dulu. Karena aku tidak bisa bersikap kejam, aku tidak bisa menolak wanita yang mendekatiku. Tapi aku tidak pernah mendekati wanita lebih dulu.” Mungkin Jun-ha berpikir ini akan membuatnya lebih dapat dipercaya, tapi Pal-kang curiga, “Kenapa kau harus bertindak sejauh itu untuk orang sepertiku? Kenapa? Tidakkah kau berpikir ini aneh? Aku tidak punya banyak waktu untuk menghentikan sikap aneh seperti itu. Aku sibuk dengan pekerjaan yang aku cintai hingga aku tidak punya kesempatan untuk mengkhawatirkan hal lain. Jadi tolong cari orang yang benar2 punya waktu.”
Ini penolakan yang jelas, tapi Jun-ha tidak akan menyerah. Dia menjawab, “Aku akan perlu banyak waktu, kalau begitu. Aku tidak bisa kasar, tapi aku sabar.” Pal-kang membawa sampah keluar dan dia melihat Kang-ha duduk di luar dalam kedinginan. Dia menyuruh Kang-ha untuk masuk dan melewatinya, dimana dia akhirnya meraih tangan Pal-kang. Pal-kang menghindar, seolah-olah menguatkan dirinya dari kata2 Kang-ha. Kang-ha berkata, “Aku minta maaf. Untuk kesalahan tadi malam dan bersikap seolah-olah aku tidak ingat.” Pal-kang menjawab, “Apa masalahnya dengan hal itu? Aku tahu tadi malam aku bukan siapa2 bagimu selain seorang gadis yang duduk di sampingmu di ruang sewaan. Jadi jangan khawatir soal itu.” Kang-ha bersikeras, “Aku mungkin kejam, tapi aku tidak seburuk itu.”
Pal-kang mungkin saja sudah mulai menyukai Kang-ha sebab dia memandangi Kang-ha dan menjawab, “Kau membuat kesalahan. Kau seharusnya berpura-pura itu tidak terjadi.” Ketika Pal-kang melanjutkan jalannya, Kang-ha meledak, “Hal itu menggangguku. Terus saja… menggangguku. Karena kau, aku terus merasa terganggu.” Akan tetapi, Pal-kang malah memilih menyalahartikan penggunaan kata ‘terganggu’ dan menjawab Kang-ha dengan sopan, “Aku pikir juga begitu. Kau punya pembantu aneh sepertiku, jadi wajar jika kau akan merasa terganggu. Hanya untuk satu bulan, tolong tahanlah denganku, meskipun aku membuatmu marah.”
Wow, ini untuk pertama kalinya Kang-ha mengakui perasaannya dan dia malah ditolak. Tapi Pal-kang juga tidak serius pada kata2nya dan ketika dia sendirian, dia malah menangis. Tae-kyu mendekati Pal-kang dengan sopan dan kali ini dia menggunakan kata ‘Pal-kang sshi’ tapi Pal-kang malah menyuruhnya untuk memanggilnya kakak saja. Dia lalu meminta maaf karena sudah marah pada Tae-kyu – dia marah pada hal lain dan melampiaskannya pada Tae-kyu.
Tae-kyu mengatakan pada Pal-kang apa yang dikatakan Jun-ha padanya tentang tidak mencintai orang yang tidak mencintaimu kembali: “Tapi aku pikir aku tidak bisa melakukan itu. Aku ingin mengatakan itu padamu.” Ketika Kang-ha merenung sendirian, Pa-rang tidur sambil berjalan ke kamarnya. Lucu juga bagaimana Pa-rang tetap tidur dan menuju ke tempat tidur Kang-ha dan kali ini, Kang-ha membuka selimutnya yang membuat Pa-rang untuk mampu naik kesana. Sambil menepuk kepala Pa-rang, Kang-ha bertanya-tanya, “Orang macam apa orang tua kalian? Jika aku dilahirkan dari orang tua seperti orang tua kalian, aku tidak akan menjadi diriku yang seperti sekarang ini, benar kan?”
Kang-ha menyelimuti Pa-rang dengan selimut dan berbaring di samping anak itu. Dia menambahkan, “Jika aku menunjukkan perasaanku, aku selalu diserang. Jadi setelah beberapa titik tertentu, aku tidak bisa menunjukkannya lagi.” Bersungguh-sungguh pada ancamannya, ibu Kang-ha sekali lagi ada di loby untuk menunggu Kang-ha keesokan harinya. Ibu mengatakan kalau Kang-ha lebih kuat dari ayahnya, yang akan selalu ketakutan ketika dia mengancam akan datang ke kantornya. Melihat kalau metodenya tidak berhasil, ibu berusaha menghancurkan sikap tenang Kang-ha dengan bertanya, “Bukankah adikmu juga bekerja disini?”
Kang-ha menarik lengan ibunya dan berkata apakah ibu ingin melihat putranya satu2nya menderita. Ibu menjawab kalau dia cukup baik mengerti tentang bisnis untuk tahu bahwa dia sebaiknya tidak mengacaukan kelemahan Kang-ha. Tetap saja, seseorang bisa menjadi tidak bisa ditebak: “Jangan letakkan ibumu di posisi yang seperti itu.” Berikutnya, ibu Kang-ha masuk ke kantor Min-kyung dan jelas sekali mereka saling mengenal. Mereka berdua melancarkan serangan pasif agresif dan ketika ibu Kang-ha mengancam akan menyebarkan berita siapa Min-kyung sebenarnya, Min-kyung hanya menjawab kalau semua orang sudah tahu siapa dia sebenarnya.
Jae-young masuk dan mengenali wanita itu, mengikutinya keluar untuk bertanya kenapa dia mencari Kang-ha. Min-kyung menyuruh putrinya pergi tapi Jae-young tetap mengganggu ibunya sampai dia berkata, “Dia adalah ibu kandung Kang-ha, baik? Kau tahu kenapa aku begitu membenci Kang-ha? Itu karena dia adalah putra dari wanita seperti itu.” Kakek Jung sudah mendengar dari Pal-kang soal masalah kliennya dan sekarang membuat keputusan professional untuk menangani kasus itu. Dia menyuruh Kang-ha untuk membayarkan asuransi itu sebab pegawai JK membuat kesalahan. Untuk itu, perusahaan harus bertanggung jawab.
Pal-kang tetap tidak sadar pada hal ini dan tetap bekerja di upacara pemakaman, melakukan satu2nya hal yang dia pikirkan. Duda mendiang masih marah dan memerintahkan Pal-kang untuk pergi sebab dia bahkan tidak mau melihat wajah Pal-kang. Akan tetapi, suasana hatinya berubah ketika dia mendapat telpon yang menginformasikannya tentang keputusan asuransi JK. Dia menutup telponnnya dan berkata pada Pal-kang apa yang sudah Pal-kang katakan pada perusahaannya sebab mereka setuju untuk membayar asuransi itu tanpa penyelidikan lanjutan.
Dengan gembira, Pal-kang berhamburan masuk ke kantor Kang-ha dan Kang-ha bergumam, “Ini benar2 kebiasaan sekarang.” Pal-kang mengucapkan terima kasih padanya. Kang-ha mengatakan kalau dia tidak ada hubungannya dengan itu – pejabat yang lebih tinggi membuat keputusan itu dan dia hanya mengikuti perintah. Pal-kang tidak mempercayainya, berkata kalau Kang-ha hanya merendah, dan berterima kasih lagi padanya. Kang-ha mengulangi kalau dia tidak melakukan apapun, tapi Pal-kang tidak gentar. Dia meninggalkan kantor itu dengan suasana hati ceria dan cekikikan sendiri.
Jun-ha melihatnya di lorong dan berkata kalau Pal-kang pasti punya berita bagus. Senyum Pal-kang hilang dan dia menghindari mata Jun-ha ketika dia mengatakan padanya kalau kasus itu sudah terselesaikan. Jun-ha memperhatikan sikap mengindari Pal-kang itu dan bertanya kenapa. Pal-kang menjawab, “Karena aku memikirkan pengacara, kau dan Tae-kyu sebagai atasanku.” Karena curiag, Jun-ha bertanya pada kakaknya apa Kang-ha menangani klien Pal-kang – apa Kang-ha ingin menjadi ayah yang baik? Itu benar2 bukan Kang-ha dan dia harus menjauhkan diri dari sikap seperti itu di masa depan.
Kang-ha: Dan jika aku tidak bisa? Jika aku tidak mau?
Jun-ha: Apa yang kau lakukan?
Kang-ha: Apa menurutmu?
Jun-ha: Sudahkah semangat bersaingmu keluar lagi? Sudahkah kau diprovokasi melakukan permainan siapa yang akan memenangkan gadis tercantik? Tapi Jin Pal-kang tidak cukup cantik untuk menginspirasimu untuk merasa bersaing. Aku tidak tertarik untuk main-main sekarang, jadi mundurlah.
Kang-ha: Kau berkata pada dirimu bahwa ini adalah pertama kalinya kau melihatku bicara begitu banyak soal wanita atau marah.
Jun-ha: Jadi?
Kang-ha: Aku bertanya-tanya kenapa aku seperti itu. Aku ingin menemukan alasan untuk hal itu. Jadi kenapa bukan kau yang mundur?
Jun-ha: Kau punya Jae-young, yang mencintaimu hingga mati.
Kang-ha: Kalau begitu dia perlu kenyamananmu.
Jun-ha: Bangunlah.
Kang-ha: Aku pikir kaulah orang yang harus bangun. Pikirkan dengan hati2 kenapa kau mengalihkan perhatianmu pada Jin Pal-kang.
Eun-mal dan Jin-ju mampi ke rumah dan Eun-mal mengajari Pal-kang bagaimana membuat kimchi. Ketika Eun-mal pergi untuk menggunakan kamar mandi, dia bertemu dengan kakek, dan Eun-mal, tidak seperti Pal-kang, langsung mengenalinya sebagai presiden JK. Kakek bicara dengan Eun-mal untuk memintanya bekerja sama. Kakek sedang menjaga Pal-kang untuk memastikan dia baik2 saja. Ketika dia dan Jin-ju meninggalkan rumah itu, Eun-mal berkata kalau Pal-kang akan baik2 saja sekarang, meski dia tidak bisa mengatakan kenapa pada Jin-ju.
Malam itu, Pal-kang menyiapkan makan malam mewah, karena ingin berterima kasih pada Kang-ha sebab sudah membantu kasus asuransinya. Setelah duduk dan dilayani, keluarga itu mulai makan. Melihat Pal-kang masih berdiri, Kang-ha mengundangnya untuk duduk. Pal-kang menolak dengan sopan, berkata kalau ini waktunya buat Nam untuk bangun. Kang-ha mengatakan kalau dia membiarkan pintu ke kamarnya terbuka, mereka akan mampu mendengar ketika Nam bangun. Ini Kang-ha yang berbeda, dan Cho-rok bertanya pada kakaknya, “Tidakkah dia terlihat sedikit aneh hari ini?” No-rang menjawab kalau Jun-ha pasti sudah memberinya sebuah pelajaran.
Malam itu juga, Pal-kang membawakan Kang-ha teh-nya dan bangga pada dirinya karena bisa mengetuk pintu untuk sekali ini. Dengan enggan, Pal-kang bertanya apa dia bisa mengganti seprai tempat tidur Kang-ha sekarang sebab tadi dia lupa melakukannya. Dengan kesopanan yang tidak biasa, Kang-ha mempersilahkan Pal-kang untuk melakukannya. Selagi Pal-kang bekerja, Kang-ha memandang dengan ekspresi penasaran di wajahnya, meski begitu, dia cepat-cepat berbalik ketika Pal-kang melihatnya.
Pal-kang mengucapkan selamat malam pada Kang-ha, tapi Kang-ha menghentikan Pal-kang dengan menyebutkan kontraknya, yang memberikannya waktu sebulan untuk tinggal disini. Kang-ha berkata, “Aku ingin memperpanjang waktu kontrak itu. Apa itu mungkin?”

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei