Friday, 21 October 2011

Wish Upon a Star Episode 14

Posted by kiki kartika at 02:15
Kali ini ketika Kang-ha memeluknya, Pal-kang tidak melepaskan dirinya tapi bertanya dengan lembut, “Kenapa kau melakukan ini? Apa ada yang salah?” Berbalik, Kang-ha memandangi tembok saat dia berkata, “Aku terus berbuat salah padamu. Aku minta maaf. Tidak akan terjadi lagi.” Kang-ha masuk ke dalam rumah, mengabaikan panggilan prihatin Pal-kang. Di dalam kamarnya, Kang-ha berkata pada dirinya sendiri, “Ayo hentikan ini. Kau bukan orang yang memerlukan cinta. Kau punya Jun-ha. Pikirkan itu.”
Pal-kang melihat kalau Kang-ha minum dan membawakannya sup untuk dimakan bersama alkoholnya. Kang-ha bertanya, “Kenapa kau peduli pada kesehatan majikanmu, sebagai pembantu?” Pal-kang ragu sebentar sebelum setuju. Suasananya berubah serius saat Kang-ha bertanya, “Kenapa aku? Lima tahun lalu, kenapa aku ketimbang Jun-ha? Bukankah seharusnya Jun-ha ketimbang bajingan sepertiku?”
Pal-kang merenung kembali ke hari dimana semua itu dimulai, yang merupakan hari training pertamanya, saat dia mengantuk. Kang-ha memaki Pal-kang, berkata kalau Pal-kang seharusnya malu karena sudah menjalani hidupnya setengah hati. Kang-ha tidak ingat tapi Pal-kang mengatakannya dengan nada penuh harap. Pal-kang berkata, “Dalam hidup ada saat2 seperti itu. Dia mungkin orangnya. Orang yang seharusnya aku temui dalam hidup. Begitulah, aku merasa jantungku bergetar hari itu.”
Pal-kang mengenang perasaannya dengan ekspresi menerawang di wajahnya lalu dia berusaha melupakan semua perasaan itu. Ketika Pal-kang berbalik pergi, Kang-ha menarik tangannya dan berkata, “Akan lebih baik jika bukan aku. Kau tidak akan membuang waktumu menguras kartu kredit.” Dengan hati2, Pal-kang membebaskan tangannya dan bilang, “Karena itulah aku kembali ke akal sehatku dan bekerja keras sekarang. Jangan merasa bersalah.” Masih dengan suara serius, Kang-ha berujar, “Hanya… Aku minta maaf. Aku benar2…. Minta maaf.”
Kali ini, Pal-kang kesulitan melupakan kata2 Kang-ha. Dia tetap berbalik jadi Kang-ha tidak melihat air matanya, yang terjatuh waktu dia meninggalkan kamar Kang-ha. Kang-ha kembali ke minumannya, dia juga menangis. Malam itu, Pal-kang memikirkan kelakukan Kang-ha waktu dia memberi makan Nam. Pal-kang berkata, “Paman itu bersikap aneh hari ini, benar kan? Kau tahu, aku bilang jika aku menyesalinya, bahwa aku tidak tahu kenapa aku mengikuti pria seperti dia. Tapi tidak benar. Aku harus hidup sebagai seorang ibu sekarang, tapi tetap saja, aku bahagia karena menyukai seseorang selama lima tahun. Dan aku senang karena orang yang aku sukai Kang-ha.”
Kang-ha dan Jae-young mengobrol dengan orang tua Jae-young untuk mengumumkan rencana pernikahan mereka. Kang-ha duduk dengan raut wajah muram sedangkan Jae-young berbinar saat mengumumkan berita itu. Meski In-gu senang mendapatkan menantu seperti Kang-ha, tidak begitu dengan Min-kyung. Dia ragu dengan perubahan perasaan Kang-ha dan bertanya pada anak perempuannya tentang hal itu dengan sedikit kecurigaan.
Jae-young begitu senang karena keadaan yang telah berubah ini dan tidak goyah oleh perkataan ibunya dan bahkan berkata kalau dia akan berusaha menggoyahkan hati Kang-ha yang keras. Jae-young mengatakan kalau ibunya akan menyiapkan makan siang besok untuk mereka. Tapi Kang-ha bersikap seolah-olah dia tidak mendengarkan ucapan Jae-young dan berkata kalau dia punya pekerjaan. Jun-ha juga tidak percaya akan keberhasilan Jae-young tapi Jae-young hanya bilang jika Kang-ha pasti sudah berubah pikiran. Jun-ha memaksa Jae-young untuk memberikan rahasianya. Apa Jae-young membuat Kang-ha mabuk dan menggodanya? Semua orang jelas tidak percaya pada Jae-young. Mereka menduga kalau Jae-young menjebak Kang-ha atau memaksanya.
Saat Pal-kang menghampiri Jae-young dan Jun-ha di lorong, dia senang karena mendapat dua kontrak baru lagi. Pal-kang mengucapkan terima kasih karena sudah membantu dan Jae-young bahkan tidak ikut senang dan berkata kalau mendapatkan kontrak tidak sesulit mempertahankannya. Jang-soo sudah melakukan penyelidikan serius pada pria mencurigakan dari episode sebelumnya itu, Kim Do-shik. Jang-soo sangat curiga hingga dia kembali ke rumah pria itu dan tepat saat itu pula dia melihat Do-shik pergi dari rumahnya dengan membawa banyak barang. Dia mengikuti pria itu ke motel, lalu bicara pada tuan tanah Do-shik untuk memastikan jika Do-shik sudah menyelesaikan kontrak rumahnya.
Berdasarkan kejadian sebelumnya, semuanya kelihatan mencurigakan dan Jang-soo yakin jika Kim Do-shik terlibat dalam kecelakaan itu. Dia berniat terus mengikuti Do-shik untuk melihat apa lagi yang bisa dia temukan. Kakek Jung menunjukkan pada Pal-kang wanita yang sedang dia cari, yang Pal-kang kenali sebagai salah satu teman ibunya dari desa. Pal-kang tidak tahu dimana wanita itu tinggal sebab dia hanya datang sekali setahun, tapi kakek menyuruhnya berpikir keras agar menemukan klue yang mungkin bisa membantu.
Selama makan siang, Pal-kang sekali lagi memarahi kakek karena menghabiskan uang. Kakek menjamin kalau dia punya uang dan hari ini kakek menyerahkan buku bank sebagai bukti. Jumlah uangnya adalah 31 juta won – yang membuat mata Pal-kang melebar. Pal-kang bertanya, “Kakek, apa kau merampok bank?” Kakek kemudian menyebutkan tentang teman ibu Pal-kang lagi (mereka memanggilnya Jung-yi atau Jung-ae ajumma) dan mengaku kalau wanita itu adalah menantu kakek. Dia juga ibu dari cucu kakek dan kakek harus menemukannya. Jadi jika Pal-kang bisa menemukan info sekecil apapun yang bisa mengarah ke wanita itu, kakek akan memberikan semua uang itu pada Pal-kang.
Pal-kang tidak sadar kalau kakek adalah orang kaya. Dia hanya berpikir jika kakek sudah berhemat selama bertahun-tahun dan menolak uang itu, mengatakan pada kakek untuk menggunakan uang itu dengan menantunya. Kang-ha sedang dalam mood jelek dan dia minum sendirian malam itu di pojangmacha. Dia memikirkan lagi jawaban Pal-kang kenapa dia menyukainya, yang berlawanan dengan ancaman kejam Jae-young untuk mengatakan pada Jun-ha jika mereka punya ibu yang berbeda. Dengan marah, Kang-ha melempar soju ke lantai yang memerciki pria yang duduk di belakangnya. Kang-ha hanya sekilas meminta maaf tapi penjahat ini memberikan perlawanan atas kekasaran Kang-ha.
Kang-ha sedang tidak ingin meminta maaf secara resmi, jadi dia memaki balik hingga salah satu pria menarik Kang-ha dan memukulnya. Mereka pergi, tapi Kang-ha merasa dihina jadi dia maju dan memukul pria tadi. Tidak mengejutkan lagi, Kang-ha dipukul habis2an tapi dia sama sekali tidak peduli. Ketika Kang-ha terjatuh setelah perkelahian itu, dia memikirkan hari dimana dia menawarkan Pal-kang tumpangan untuk pertama kalinya – tumpangan yang menuntun ke beberapa kejadian sial: kecurian mobil, kena muntahan, dan popok bayi. Kang-ha berpikir, “Aku seharusnya tidak memberikan tumpangan padanya.”
Tae-kyu memohon pada Jun-ha untuk berhenti mengejar Pal-kang, takut karena dia tidak akan mampu menyamai pamannya itu. Tae-kyu tidak lagi khawatir pada Kang-ha sebab Kang-ha sudah menunjukkan beberapa kekejaman, tapi Jun-ha itu cerita yang berbeda. Tidak bisakah Jun-ha melepaskan Pal-kang demi Tae-kyu? Jun-ha tidak mau yang menyebabkan Tae-kyu berhamburan keluar dengan marah. Dia menjamin Pal-kang, “Suatu hari kau akan menyadari betapa kuat cintaku!” Pal-kang hanya menyuruh Tae-kyu tidur dan Tae-kyu meratap karena tidak dianggap serius.
Sedangkan Pa-rang hanya berkeliaran, tidak mau pergi tidur sampai Kang-ha pulang. Pal-kang menyuruh Pa-rang cepat tidur, tapi anak itu malah berlari ke lantai atas untuk tidur di kamar Kang-ha. Kang-ha tersandung dengan keadaan mabuk, kotor, dan terluka. Dia bergumam jika dia baik2 saja, tapi Pal-kang memandangi Kang-ha dengan kaget sekali. Kang-ha menepis bantuan Pal-kang dan berkata dengan marah kalau dia baik2 saja lalu menuju kamarnya.
Pa-rang bangun sedangkan Pal-kang dan Jun-ha mengikuti Kang-ha untuk bertanya apa yang terjadi. Kang-ha sedang tidak ingin menjelaskan apa2 dan berteriak pada semua orang untuk pergi dari kamarnya. Orang2 dewasa bingung, tapi malah Pa-rang yang menangis, “Bagaimana kalau dia meninggal?” Jun-ha menjamin kalau Kang-ha kuat dan tangguh, jadi dia tidak akan mati. Kang-ha adalah power ranger. Kang-ha pingsan di tempat tidurnya sedangkan yang lainnya kembali khawatir. Pal-kang menunggu di luar kamar Kang-ha dengan kotak P3K dan melihat Kang-ha bangkit ke kamar mandi untuk muntah.
Pa-rang juga mengintai, menunggu untuk memeriksa Kang-ha. Mungkin merasa bahwa kehadirannya kurang diharapkan, Pal-kang menyuruh adiknya masuk dan menepuk punggung Kang-ha, yang dengan senang hati Pa-rang lakukan. Kang-ha merasa sakit karena luka fisiknya, tapi saat dia melihat Pa-rang sekilas, dia menyadari kalau anak itu menangis. Kang-ha bertanya kenapa dan Pa-rang menjawab, “Karena kau terluka.”
Kang-ha bertanya kenapa ini membuatnya menangis dan Pa-rang menjawab, “Karena kau terluka, rasanya aku juga terluka.” Meski Kang-ha bergumam kalau Pa-rang tidak akan bertahan di dunia ini dengan hati lemah seperti itu, Kang-ha jelas2 tersentuh oleh perhatian anak itu. Sekarang Kang-ha membiarkan Pal-kang merawat luka di wajahnya. Pal-kang memarahi Kang-ha karena berkelahi, tapi Pa-rang membela Kang-ha. Kenapa Pal-kang memarahi Kang-ha saat dia sakit? Pal-kang menjawab, “Karena dia melakukan sesuatu yang pantas mendapat makian! Aku sangat kesal, ini benar2 mengkhawatirkan.”
Kang-ha bertanya, “Apa begitu buruknya hingga kau merasa kesal?” Pal-kang menjawab bahwa mereka tinggal di rumah yang sama, jadi melihat seseorang pulang ke rumah berdarah-darah secara alami membuat khawatir. Pal-kang menambahkan, “Kau bilang kau melawan!” Kang-ha tidak bisa membiarkan Pal-kang mengejek kelemahan fisiknya jadi dia membela diri, “Keadaannya tiga lawan satu. Dan mereka bandit kelas wahid!” Pal-kang membalas, “Bahkan bukan 17 lawan 1, tapi hanya tiga lawan satu?” Kang-ha mengeluh, “Kalau 17 lawan satu, apa kau pikir aku akan mampu pulang ke rumah?”
Mereka berdua mulai bertengkar. Pal-kang: “Kenapa kau menaikkan suaramu? Kau tidak melakukan perbuatan yang patut dibanggakan.” Kang-ha: “Ini karena kau menganggap tiga lawan satu sebagai hal biasa!” Pertengkaran ini bahkan membuat luka di wajah Kang-ha bertambah sakit. Mereka menenangkan diri sejenak tapi begitu percakapan dimulai lagi, mereka melanjutkan lagi pertengkaran yang tadi. Pal-kang menjelaskan kalau Kang-ha menutup mulutnya maka dia tidak akan terluka. Kang-ha jelas membela diri.
Pal-kang memerintahkan Pa-rang segera pergi jadi Kang-ha bisa tidur tapi anak itu menolak. Kali ini Kang-ha mengatakan Pa-rang bisa melakukan apapun yang dia mau, dan dia mengatakan ini tentu dengan wajah tegangnya. Tapi ketika Pa-rang berkata, “Tolong mengertilah, demi aku.” Kang-ha benar2 tidak bisa menahan tawanya. Saat Kang-ha bangun di tengah malam lalu menuju ke kamar mandi, Pa-rang juga ikut ke kamar mandi dan menepuk punggung Kang-ha ketika dia muntah, sambil bertanya, “Lain kali, berkelahi satu lawan satu, oke?” Kang-ha setuju.
Ketimbang tidur, Pa-rang malam menjaga Kang-ha dengan meniup lukanya. Pa-rang menjelaskan bahwa ketika dia mengalami luka di wajahnya, maka ibunya akan meniupnya saat malam. Tersentuh, air mata jatuh di pipi Kang-ha ketika dia tersenyum pada anak itu. Lalu air mata seperti akan jatuh lebih banyak lagi jadi Kang-ha mengatakan rasanya sudah tidak sakit lagi dan menyuruh Pa-rang tidur. Kang-ha berbalik tapi Pa-rang yang mengintip di sebelah Kang-ha bisa melihat kalau Kang-ha menangis. Pa-rang berpikir kalau itu karena lukanya dan bertanya pada Kang-ha apa lukanya sakit. Kang-ha menjawab, “Ya, rasanya sakit sekali.”
Pagi harinya, anak2 melihat wajah Kang-ha dan bertanya apa yang terjadi. Kang-ha mengatakan pada Ju-hwang, “Aku bersikap seolah-olah aku kuat dan aku malah diserang balik.” Kalimat ini mengacu ke perkataan Kang-ha dulu pada Ju-hwang. Waktu itu Ju-hwang dipukul anak yang lebih dewasa dan Kang-ha menjamin jika Ju-hwang kuat. Ju-hwang, mencoba mengerti, berkata kalau Kang-ha tidak lemah. Kang-ha berujar, “Terima kasih, nak.”
Ingat kalau anak2 akan kembali ke sekolah bulan maret, Kang-ha bertanya pada Pa-rang hadiah apa yang ingin dia dapat, sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawatnya semalaman. Apa Pa-rang ingin tas baru? Sepeda? Pa-rang kegirangan dan menerjemahkan ini menjadi istilah anak2: “Jadi ini berarti kau menghadiahkanku permintaan?” Pa-rang berhamburan ke bawah dan mengatakan pada saudara2nya jika Kang-ha memenuhi permintaannya: mereka akan pergi ke taman hiburan hari ini!
Kang-ha menyuruh anak2 untuk cepat2 dan bersiap-siap jika mereka ingin tiba disana lebih awal dan menikmati hari mereka. Tapi di taman, Kang-ha bersikap tidak baik pada Pal-kang dan menggunakan taman hiburan sebagai alasan suasana hatinya yang buruk. Ini membuat Pal-kang menjelaskan bahwa semuanya adalah ide Kang-ha agar mereka datang kemari. Kang-ha menjawab kalau ini bukan idenya tapi dia hanya memenuhi keinginan anak2. Pal-kang bertanya kenapa Kang-ha harus mengurusi permintaan hari ini. Kang-ha menjawab, “Aku tidak sabar!”
Mereka diganggu oleh anak2, yang menyuruh keduanya bergabung dengan anak2 dalam sebuah kendaraan. Kang-ha berkata kalau dia tidak tahu cara mengendarai benda itu, karena dia tidak pernah pergi ke taman seperti ini sebelumnya. Anak2 berkata kalau mereka juga tidak pernah pergi ke taman seperti ini sebelumnya, yang membuat Kang-ha kaget. Pal-kang menjelaskan, dengan enam anak, biayanya cukup besar. Ini juga mengungkapkan bagaimana mereka dulu makan makanan sample di toko, dan lagi Kang-ha kaget. Dia tahu mereka tidak kaya tapi tidak mengira akan seperti itu. Anak2 tidak malu waktu mengatakannya tapi Kang-ha merasa lebih malu mengetahui situasi mereka.
Kang-ha mau naik wahana itu, dimana dia mengayun dan memutar. Memang, Kang-ha baru saja mengalami malam yang buruk tapi reaksinya cukup lucu, tetap dingin tapi juga ceria. Dia bahkan lupa pada undangan makan siang Jae-young – atau mungkin saja dia tidak lupa tapi memilih mengabaikannya. Tapi Jae-young berpikir kalau Kang-ha akan datang dan sibuk mempersiapkan semuanya.
Jae-young menelpon Kang-ha berkali-kali – dan Kang-ha sebenarnya melihat telpon dari Jae-young – tapi dia memilih mengabaikannya, memilih tidak menjawabnya. Begitu pun Jun-ha yang mendapati rumah kosong dan juga mencoba menelpon Kang-ha, tapi hasilnya sama seperti Jae-young. Keluarga Jung bertanya-tanya ada masalah apa sebab mereka sudah mempersiapkan segalanya menanti kedatangan Kang-ha. Di sisi lain, Kang-ha yang ada di taman hiburan membelikan anak2 hotdog dan lucunya, Kang-ha malah lupa berapa jumlah anak2 itu dan menghitung menggunakan sistem warna, merah, oranye, kuning, hijau, biru…
Pa-rang ingin pergi ke lingkungan rumah mereka yang lama untuk makan malam (makan sample makanan di toko). Dia mengatakan kalau daging babi yang dijual di toko sana adalah yang terbaik. Kang-ha pada awalnya berpikir kalau Pa-rang ingin makan daging babi untuk makan malam dan menawarkan untuk membelikannya daging babi. Tapi anak2 menjawab jika mereka ingin makan di toko.
Ada satu lagi saat2 lucu ketika mereka makan daging sapid an pedagang di toko itu menganali anak2 itu. Pria itu mengira kalau Kang-ha adalah calon suami Pal-kang, yang membuat Pa-rang tersenyum dan mengiyakan. Pal-kang meminta Pa-rang diam dan menutupi rasa malunya dengan menyuruh pria itu tetap memasak. Pedagang itu bertanya, “Kenapa kau meneriakiku?” Kang-ha memiringkan badannya dan bilang, “Itu hobinya.” Salah mengartikan kata2 Kang-ha, pria itu malah berkata, “Kau jatuh cinta pada pesonanya!”
Mereka mengunjungi dari stan satu ke stan yang lain dan bahkan Kang-ha harus berkomentar kalau mereka setidaknya mendapatkan makanan yang lengkap. Pal-kang mulai bergumam kalau ibunya sangat menyukai ini tapi hal itu juga membuat senyumnya menghilang. Kang-ha menebak jika Pal-kang pasti sangat menyayangi ibunya. Pal-kang berkata, “Apa ada orang di dunia ini yang tidak menyayangi ibunya?” Melihat reaksi Kang-ha, Pal-kang yakin jika Kang-ha tidak punya hubungan yang bagus dengan ibunya.
Jae-young menelpon menanyakan dimana Kang-ha. Jun-ha tidak tahu jadi dia tidak sepenuhnya berbohong saat berkata jika Kang-ha terluka semalam, jadi mungkin sekarang dia pergi ke rumah sakit. Khawatir, Jae-young tiba di rumah Kang-ha – tapi dia sangat pintar dan sadar jika rumah kosong. Jika Pal-kang dan anak2 juga pergi, ada kemungkinan jika mereka pergi bersama.
Jun-ha mencoba mengubah ini menjadi hal positif, berkata kalau Pal-kang bukan saingan berat buat Jae-young. Dia seharusnya bisa tenang. Tapi berikutnya, keluarga Jin tiba di rumah dan semua orang menghentikan langkahnya karena melihat Jae-young berdiri disana. Mereka tahu ini tidak bagus meski Jae-young menyapa mereka.
Jae-young mencoba bersikap tenang meski telah mendengar kalau mereka pergi ke taman hiburan. Jae-young berkata pada Kang-ha, “Terima kasih. Apa kau berlatih dulu dengan anak2 sebelum kau menikah?” Kata menikah itu menarik perhatian semua orang dan Jae-young mengiyakan, “Kita akan mengundang Pal-kang dan anak2 ke pernikahan kita.”
Ini mengejutkan buat anak2, Pal-kang, dan bahkan Tae-kyu. Kang-ha melihat Jae-young begitu kecewa tapi itu tidak membuat Jae-young berhenti bertanya dengan nada manis, “Pal-kang, apa kau mau menangkap buket bungaku?”

0 comments:

Post a Comment

 

Drama Korean Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei